Cahaya di Bukit Menoreh, Bawa Perubahan dengan Cara yang Berbeda
📅 Selasa, 11 Agu 2026, 21:14 WIB | Oleh: Opik"Masyarakat sangat senang dan sangat berterima kasih sekali. Adanya hidro ini membuat biaya-biaya yang harus ditanggung di PLN diringankan," kata Kepala Dukuh Kedungrong Suprihatin.
Berbeda dengan pelanggan listrik pada umumnya, warga Kedungrong tidak membayar tagihan listrik setiap bulan. Mereka membayar iuran Rp12.000 setiap selapan — siklus 35 hari dalam penanggalan Jawa — bertepatan dengan musyawarah RT. Dana itu digunakan untuk operasional pembangkit sekaligus perawatan lampu penerangan jalan.
Menurut Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini, sistem itu selama ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. Namun, pengurus mulai menyiapkan skema baru bagi pelaku usaha yang menggunakan daya lebih besar.
Saat ini, listrik dari PLTMH juga menggerakkan sedikitnya lima usaha mikro di dusun tersebut, mulai dari bengkel, pertukangan kayu, salon kecantikan, usaha es teh kemasan, hingga penetasan telur.
Sebaiknya Anda baca juga:
"UMKM tentu membutuhkan daya watt yang lebih tinggi. Ke depan, kami di kepengurusan akan merembuk kembali untuk menyesuaikan tarif iuran bagi sektor usaha agar tetap proporsional," kata Sumberini.
Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kulon Progo Aris Nugroho, PLTMH Kedungrong lahir dari upaya masyarakat memanfaatkan potensi lokal setelah bencana longsor pada 2001. Bersama kalangan akademisi dan pemerintah daerah, gagasan tersebut berkembang hingga pembangkit mulai beroperasi 11 tahun kemudian.
Sejak itu, listrik yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan puluhan rumah tangga dan penerangan jalan, tetapi juga menopang tumbuhnya berbagai usaha mikro di dusun tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih dari satu dekade setelah turbin pertama berputar, aliran Irigasi Kalibawang masih terus menggerakkan pembangkit kecil di Kedungrong. Air yang selama puluhan tahun menghidupi sawah kini juga menerangi rumah dan jalan serta menggerakkan usaha warga.
Di Bukit Menoreh, cahaya itu datang dari aliran air yang dirawat bersama, dari iuran yang disepakati warga, dan dari gotong royong yang menjaga turbin tetap berputar. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!