Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ingat Pesan Dokter Ini, Obesitas Dapat Meningkatkan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 00:45 WIB | Oleh:
Ingat Pesan Dokter Ini, Obesitas Dapat Meningkatkan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Doc: Antara foto
Ket. Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Prof. Sidartawan Soegondo (kanan) bersama Dicky Levenus Tahapary selaku Konsultan Endokrin Metabolik & Diabetes DCC Eka Hospital BSD (kiri) saat menjelaskan mengenai penyakit obesitas dalam acara bersama media di Bintaro Tangerang Selatan, Sabtu.

TANGERANG - Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Prof. Sidartawan Soegondo mengatakan penumpukan lemak berlebih khususnya di area perut, dapat memicu resistensi insulin yang menjadi salah satu mekanisme penting dalam perkembangan diabetes tipe 2.

Ia menjelaskan obesitas tidak sekadar berkaitan dengan kelebihan berat badan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami berbagai penyakit metabolik, termasuk diabetes melitus tipe 2.

"Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2," kata Sidartawan yang juga Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital dalam acara di Bintaro Tangerang Selatan, Sabtu.

Pada orang dengan obesitas terutama ketika terjadi penumpukan lemak di sekitar perut, lanjut Prof Sidartawan, jaringan tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin atau resistensi insulin.

Sementara insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas dan berfungsi membantu sel tubuh menyerap serta menggunakan glukosa dalam darah sebagai sumber energi. Akibatnya, pankreas harus bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.

"Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2," kata dia.

Menurut Sidartawan, penanganan obesitas tetap harus dimulai dengan perubahan gaya hidup, terutama melalui pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik. Namun, pada sebagian pasien, perubahan gaya hidup yang telah dilakukan secara konsisten belum memberikan penurunan berat badan yang optimal.

Dalam kondisi tertentu terapi obat dapat dipertimbangkan oleh dokter terutama pada pasien obesitas yang telah memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol.

"Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Prof Sidarta, perkembangan terapi diabetes dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan kadar gula darah, tetapi juga memberikan manfaat terhadap pengelolaan berat badan. Salah satunya adalah kelompok obat GLP-1 receptor agonist serta terapi dual incretin.

Ia menjelaskan terapi tersebut bekerja melalui mekanisme yang antara lain dapat meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, dan membantu meningkatkan pengendalian kadar gula darah.

Terapi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, khususnya ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c yang menjadi salah satu parameter untuk melihat pengendalian gula darah dalam jangka panjang.

Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Daerah
Bromo Ditutup Total: Kebaka...
'Bisa Meninggal Kapan Saja', Media Israel Klaim Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei Kritis dan Dirawat di Rumah Sakit

'Bisa Meninggal Kapan Saja', Media Israel Klaim Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei Kritis dan Dirawat di Rumah Sakit

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.