Nelayan Jangan Melaut, BMKG Sebut Penguatan Monsun Picu Gelombang Tinggi di NTB
📅 Sabtu, 08 Agu 2026, 14:45 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoMATARAM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut monsun Australia yang membawa angin timuran menjadi salah satu faktor utama pemicu tinggi gelombang laut saat musim kemarau di perairan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengatakan monsun Australia yang aktif pada Agustus menyebabkan angin timuran bertiup melewati perairan selatan NTB, sehingga membentuk wind waves.
"Monsun Australia yang aktif juga mendukung adanya peningkatan kecepatan angin di sekitar NTB, daratan maupun lautan," ujar dia saat dikonfirmasi di Mataram, Sabtu.
Pada 8-9 Agustus 2026, BMKG Stasiun menerbitkan informasi potensi gelombang setinggi empat hingga enam meter di Selat Lombok bagian selatan dan Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, gelombang laut setinggi 2,5 hingga empat meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara dan selatan, perairan selatan Sumbawa, serta Selat Sape bagian selatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ari menjelaskan gelombang tinggi di perairan Nusa Tenggara Barat tidak hanya terbentuk akibat kondisi angin lokal, tetapi juga dapat dipengaruhi gelombang rambatan atau swell dari Samudra Hindia.
Gelombang rambatan tersebut merupakan gelombang yang terbentuk akibat sistem angin kuat di wilayah yang jauh di Samudra Hindia, kemudian merambat hingga ke perairan Nusa Tenggara Barat.
Menurut dia, wilayah selatan NTB menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih karena penguatan angin monsun Australia menyebabkan peningkatan kecepatan angin dan potensi gelombang tinggi yang lebih signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, perairan selatan Lombok dan Sumbawa, serta Samudra Hindia selatan NTB merupakan wilayah yang perlu diwaspadai akan adanya peningkatan tinggi gelombang," papar Ari.
Lebih lanjut dia menyampaikan angin timuran yang bertiup secara persisten pada musim kemarau juga memiliki fetch atau wilayah laut yang dilalui angin sebelum mencapai suatu wilayah yang panjang. Kondisi tersebut mendukung peningkatan tinggi gelombang di perairan NTB.
Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi gelombang tinggi masih dapat terjadi selama beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut bisa meningkat ketika angin timuran menguat dan berlangsung secara persisten.
Ari menegaskan kondisi gelombang tinggi bersifat fluktuatif dan tidak berlangsung terus-menerus sepanjang musim kemarau karena dipengaruhi perubahan pola serta kekuatan angin dan gelombang dari Samudera Hindia.
"Kami mengimbau nelayan maupun pelaku pelayaran untuk memperhatikan kondisi angin, gelombang, serta cuaca dan kemudian menyesuaikan rute serta waktu pelayaran dengan kondisi perairan," pungkas dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!