Indonesia Eksplorasi Kerja Sama Pangan hingga AI dengan AS
📅 Jumat, 31 Jul 2026, 09:09 WIB | Oleh: Tim PenulisDirektur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York Tessal Maharizky Febrian dalam pertemuan tersebut memaparkan bahwa investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada semester pertama 2026 telah mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS.
Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia secara global.
Sedangkan nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat sekitar 43,8 miliar dolar AS.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke AS antara lain produk elektronika sekitar 6 miliar dolar AS, tekstil 4,9 miliar dolar AS, alas kaki 2,8 miliar dolar AS, minyak sawit 2,1 miliar dolar AS, furnitur 1,4 miliar dolar AS, serta produk perikanan sekitar 1,2 miliar dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, Indonesia mengimpor berbagai produk dari AS, antara lain kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa atau satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.
Menurut Dubes Indroyono, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jakarta dan Washington memiliki fondasi yang kuat, tetapi masih menyimpan ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar.
Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang strategis, posisi geografis yang penting, serta agenda transformasi digital dan industrialisasi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan-perusahaan AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun demikian, ia menyoroti sejumlah hal yang dinilai perlu diperkuat, antara lain perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di lain pihak, para pelaku usaha AS dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan sejumlah masukan mengenai iklim investasi di Indonesia.
Reformasi perizinan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dinilai sebagai langkah positif dalam menciptakan kepastian dan kemudahan berusaha.
Berbagai masukan tersebut menjadi penting karena kompetisi untuk menarik investasi global semakin ketat, ujar Indroyono.
Ia mengatakan Indonesia tidak hanya bersaing untuk mendapatkan modal, tetapi juga harus mampu menjadi tempat di mana teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global dapat tumbuh bersama.
Kerja sama antara Indonesia dan AS diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan nilai investasi dan ekspor, tetapi juga membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global—dari pemasok bahan mentah menjadi negara yang semakin kuat dalam industri pengolahan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia, demikian keterangan KBRI Washington DC.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!