Pelni Perketat Keselamatan Awak Kapal, Langkah Ini Disiapkan Hadapi Kondisi Darurat
📅 Senin, 21 Sep 2026, 05:39 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) memperkuat kesiapan awak kapal menghadapi kondisi darurat melalui penguatan budaya keselamatan, pelatihan tanggap risiko, dan evaluasi operasional seluruh armada pelayaran nasional.
Sekretaris Perusahaan Pelni Ditto Pappilanda mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional perusahaan sebagai penyedia layanan pelayaran nasional.
"Karena itu, penguatan budaya keselamatan perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh awak kapal. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional Pelni," kata Ditto dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Adapun Pelni menyelenggarakan Fleet Safety Excellence Award 2026 sebagai upaya memperkuat budaya keselamatan di seluruh armada perusahaan.
Program itu mendorong kapal dan awak kapal untuk terus meningkatkan penerapan keselamatan dalam setiap aktivitas operasional pelayaran.
Dia menyampaikan Fleet Safety Excellence Award merupakan program yang ditujukan bagi kapal dan awak kapal Pelni, baik kapal penumpang, kapal perintis, kapal barang, kapal ternak maupun kapal rede.
"Program ini mencakup sejumlah aspek keselamatan, antara lain pelaksanaan emergency response dan safety drill, kepemimpinan keselamatan, pelaporan hazard dan near miss," ujarnya.
Karena itu, kata Ditto, melalui kegiatan itu pihaknya ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh awak kapal untuk memastikan pelayaran berjalan aman dan andal.
Program ini menyasar seluruh armada yang dioperasikan Pelni meliputi 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, sembilan kapal barang, satu kapal ternak, dan 17 kapal rede.
Ia menyebutkan peserta tidak hanya mencakup kapal sebagai unit operasional, tetapi juga nakhoda, perwira, serta seluruh awak kapal yang memiliki peran dalam penerapan keselamatan, pengendalian risiko, dan kelancaran operasional kapal.
Dalam pelaksanaannya, nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap implementasi keselamatan pelayaran dan penerapan International Safety Management (ISM) Code.
Sementara itu, perwira dan seluruh awak kapal menjalankan fungsi keselamatan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing, termasuk dalam kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, pengendalian risiko, serta pelaporan potensi bahaya di atas kapal.
"Pelaksanaan emergency response dan safety drill menjadi salah satu bagian penting dalam program ini," tutur Ditto.
Struktur tanggap darurat di kapal melibatkan nakhoda sebagai pimpinan, perwira dan awak kapal yang bertugas dalam pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan dan evakuasi, serta dukungan komunikasi dan operasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!