Tempe Didorong PHRI Berpotensi jadi Identitas Wisata Kuliner RI
📅 Selasa, 28 Jul 2026, 07:13 WIB | Oleh: OpikData Kementerian Koordinator Bidang Pangan menunjukkan rata-rata impor kedelai pada 2022-2026 mencapai 2.459.519 ton atau 93,58 persen dari rata-rata kebutuhan nasional sebanyak 2.620.294 ton.
Sementara itu, rata-rata produksi bersih kedelai dalam negeri pada periode tersebut mencapai 190.223 ton atau sekitar 8,14 persen dari kebutuhan.
Hariyadi mengatakan PHRI turut mendukung upaya swasembada kedelai untuk memperkuat ketersediaan bahan baku, menjaga keberlanjutan industri tempe, dan mengurangi pengaruh pergerakan nilai tukar terhadap biaya produksi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Tempe Indonesia Hardinsyah mengatakan tempe Indonesia telah diekspor ke 12 negara, seiring meningkatnya minat global terhadap pangan berbasis protein nabati dan produk yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, peningkatan standar sanitasi, keamanan pangan, pengemasan, dan pemasaran menjadi prasyarat agar produk tempe Indonesia dapat menjangkau pasar internasional secara lebih luas.
Forum Tempe Indonesia, katanya lagi, membina perajin melalui pengembangan Rumah Tempe di Bogor sebagai contoh penerapan proses produksi yang higienis dan memenuhi persyaratan ekspor.
“Begitu diekspor, syarat-syarat sanitasi dan keamanan pangan harus dipenuhi,” ujar Hardinsyah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan pengusulan budaya tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO perlu melibatkan kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, pelaku UMKM, dan organisasi masyarakat.
Forum Tempe Indonesia berperan menggagas pengusulan dari sisi budaya dan industri, mengoordinasikan tim pengusul, menyiapkan bukti sejarah serta dokumen budaya, dan menggerakkan komunitas perajin tempe.
“Pengakuan internasional dapat memperkuat posisi tempe sebagai warisan budaya Indonesia sekaligus mendukung pelestarian, perluasan pasar, dan peningkatan manfaat ekonomi bagi pengrajin serta pelaku usaha,” kata dia lagi.
Berdasarkan data Persistence Market Research yang dipaparkan Forum Tempe Indonesia, nilai pasar tempe global diproyeksikan meningkat dari sekitar 2,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp46,98 triliun pada 2025 menjadi 4,8 miliar dolar AS pada 2032 Rp86,72 triliun.
Pasar tersebut diperkirakan tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 9,1 persen pada periode 2025-2032, dibandingkan pertumbuhan historis sebesar 8,4 persen pada 2019-2024.
Di sisi lain, Pemerintah menyiapkan 10 langkah percepatan swasembada kedelai yang meliputi penyediaan lahan, benih unggul, pupuk dan pestisida, alat mesin pertanian, irigasi, sumber daya manusia dan pendampingan, pembiayaan, hilirisasi, kepastian pasar, serta perlindungan produksi dalam negeri dari kedelai impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!