Seberapa Rendah Nilai Tukar Rupiah akan Melemah?
📅 Minggu, 17 Mei 2026, 13:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SJAKARTA - Pengamanan psikologis dan ekonomi Indonesia secara resmi runtuh pada pertengahan Mei ketika rupiah anjlok ke 17.513 terhadap dolar AS, level terlemah dalam sejarah mata uang tersebut.
Dikutip dari Asia Times, penurunan ini telah menjadi sinyal peringatan bagi kerangka ekonomi makro negara tersebut, yang kini terjebak dalam situasi yang semakin menyerupai badai sempurna.
Pelemahan nilai tukar sekitar 5 persen sejak awal tahun ini menegaskan bahwa instrumen stabilisasi yang selama ini digaungkan oleh para pembuat kebijakan mulai kehilangan efektivitasnya di tengah meningkatnya volatilitas global.
Kemerosotan ini tidak muncul begitu saja. Sejak awal tahun 2026, rupiah telah menunjukkan kerapuhan yang signifikan , dengan arus keluar modal mencapai 1,6 miliar dolar AS hanya dalam tiga minggu pertama bulan Januari.
Tren ini semakin cepat seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan secara dramatis mengubah persepsi risiko global. Pasar keuangan semakin beralih ke mode aset aman, mendorong kenaikan Indeks Dolar AS (DXY).
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, narasi publik seputar jatuhnya rupiah sering kali menyajikan penjelasan yang terlalu sederhana dan berbahaya. Otoritas moneter tampaknya semakin terjebak dalam apa yang oleh para kritikus digambarkan sebagai " kebijakan burung unta ", yaitu meremehkan realitas pasar yang memburuk untuk mempertahankan retorika stabilitas ekonomi makro.
Pada kenyataannya, penurunan nilai rupiah mencerminkan konvergensi guncangan eksternal yang parah dan kerentanan domestik yang belum terselesaikan. Mencegah mata uang tersebut merosot lebih jauh di bawah 17.500 rupiah kini menjadi ujian kredibilitas paling penting bagi Bank Indonesia dan pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Kegagalan rupiah untuk pulih secara signifikan menunjukkan erosi kepercayaan investor yang lebih dalam. Meskipun Indonesia membukukan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang relatif kuat sebesar 5,61 persen secara tahunan, pasar tampaknya memandang angka tersebut dengan skeptis.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum dianggap dangkal, sebagian besar didorong oleh pengeluaran sosial dan konsumsi musiman daripada investasi produktif dan padat modal. Akibatnya, perekonomian Indonesia kurang memiliki jangkar yang cukup kuat untuk menahan spekulasi nilai tukar yang terus meningkat.
Perangkap pengimpor bersih
Tekanan eksternal utama saat ini berasal dari perang di Iran dan blokade terkait di Selat Hormuz. Jalur air ini berfungsi sebagai salah satu arteri energi terpenting di dunia, dan gangguan di sana telah menghilangkan hingga 100 juta barel pasokan minyak mentah dari pasar global setiap minggunya.
Bagi Indonesia, konsekuensinya sangat asimetris dan sangat merugikan. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia menghadapi lonjakan biaya impor energi secara langsung karena harga minyak mentah Brent berada di sekitar 110 dolar AS per barel.
Meningkatnya permintaan domestik akan dolar AS untuk membiayai impor bahan bakar telah menambah beban pada mata uang yang sudah melemah akibat penguatan dolar secara luas.
Pada saat yang sama, Federal Reserve AS tetap berkomitmen pada kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lama , dengan mempertahankan suku bunga tetap di 3,75 persen. Situasi ini diperburuk oleh kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun menjadi 4,47 persen, yang mempersempit selisih suku bunga antara aset Indonesia dan instrumen keuangan AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!