Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

1.354 Kematian - Kasus Tembus 3.000, Ebola Kini Jadi Wabah Terbesar dalam Sejarah Kongo

📅 Senin, 27 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:
1.354 Kematian - Kasus Tembus 3.000, Ebola Kini Jadi Wabah Terbesar dalam Sejarah Kongo Doc: Istimewa
Ket. Sejak wabah diumumkan pada Mei lalu, lebih dari 100 tenaga kesehatan telah terinfeksi Ebola dan sekitar 35 di antaranya meninggal dunia.

KINSHASA – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus memburuk dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data terbaru pemerintah menunjukkan jumlah kasus terkonfirmasi telah mencapai 3.075, sementara korban meninggal dunia melonjak menjadi 1.354 jiwa, menjadikannya wabah Ebola dengan laju penyebaran tercepat yang pernah tercatat di negara tersebut.

Lonjakan kasus mencapai sekitar 27 persen hanya dalam sepekan. Sementara itu, Al Jazeera melaporkan jumlah kematian meningkat lebih dari 40 persen hanya dalam lima hari terakhir, memicu kekhawatiran bahwa wabah ini dapat menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah jika tidak segera dikendalikan.

Wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo (Bundibugyo ebolavirus/BDBV), salah satu dari empat varian Ebola yang diketahui dapat menginfeksi manusia. Berbeda dengan varian Zaire yang pernah memicu wabah besar sebelumnya, hingga kini belum ada vaksin maupun terapi yang disetujui untuk melawan varian Bundibugyo.

Konsultan kesehatan masyarakat sekaligus salah satu tokoh yang membantu pembentukan Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Abdulsalami Nasidi, mengatakan kondisi tersebut membuat penyebaran virus sangat sulit dikendalikan.

> "Virus ini menyebar seperti kebakaran hutan (spreading like a wildfire)," ujarnya kepada Al Jazeera.

Menurut Nasidi, wabah terjadi di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata sehingga memperburuk keterbatasan tenaga medis, logistik, dan fasilitas kesehatan.

Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, bahkan memperingatkan bahwa dunia harus bertindak cepat sebelum situasi berubah menjadi bencana kesehatan global.

> "Kita harus bertindak sekarang. Jika tidak dihentikan hari ini, ini akan menjadi wabah Ebola terburuk yang pernah didokumentasikan dunia," tulisnya melalui platform X.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengungkapkan jumlah kasus sebenarnya kemungkinan lebih dari dua kali lipat angka resmi. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan konflik keamanan membuat tim kesehatan kesulitan menjangkau seluruh wilayah terdampak. Meski sekitar 80 persen kontak erat penderita telah berhasil dilacak, masih banyak desa yang belum dapat diakses petugas.

Situasi di lapangan juga semakin rumit akibat aksi mogok tenaga kesehatan. Associated Press (AP) melaporkan ratusan dokter, perawat, dan petugas keamanan di sejumlah pusat perawatan Ebola di Provinsi Ituri menghentikan pelayanan karena belum menerima insentif selama berbulan-bulan dan minimnya perlengkapan pelindung diri.

Sejak wabah diumumkan pada Mei lalu, lebih dari 100 tenaga kesehatan telah terinfeksi Ebola dan sekitar 35 di antaranya meninggal dunia. Di beberapa daerah, petugas medis juga menghadapi penolakan dari warga yang meragukan keberadaan penyakit tersebut. Bahkan, sebagian fasilitas kesehatan sempat diserang dan dibakar massa.

Di tengah situasi tersebut, secercah harapan mulai muncul dari dunia ilmiah. University of Oxford mengumumkan bahwa relawan pertama telah menerima suntikan vaksin eksperimental Bundibugyo Ebola yang dikembangkan secara cepat. Ketua peneliti Oxford Vaccine Group, Katrina Pollock, menyebut uji klinis tersebut sebagai tonggak penting dalam upaya menemukan vaksin pertama untuk varian Bundibugyo.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa pengembangan vaksin membutuhkan waktu, sementara upaya memutus rantai penularan tetap menjadi prioritas utama. Tedros juga menyerukan gencatan senjata di wilayah timur Kongo agar tim kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat terdampak sebelum wabah meluas ke provinsi lain maupun negara tetangga.

Sebagai perbandingan, wabah Ebola terbesar dalam sejarah yang melanda Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada 2013–2016 menewaskan lebih dari 11.000 orang dari sekitar 28.000 kasus. Wabah tersebut membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk mencapai 1.000 kematian, sedangkan wabah di Kongo kali ini melampaui angka tersebut dalam waktu kurang dari 10 minggu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Presiden Ahmed al-Sharaa: S...
Ekonomi
Kementan Percepat Pompanisa...

Militer Jangan Terlalu Jauh Urus Pangan

20 menit yang lalu | Lukman

Ekonomi
Militer Jangan Terlalu Jauh...
Luar Negeri
Uganda Sodorkan Kandidat Se...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...
Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang

Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang

26 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.