Surplus Telur Tapi Peternak Nyaris Bangkrut! Bapanas: Jangan Sampai Kita Impor
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 14:16 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA — Pemerintah memastikan tren harga telur dan ayam hidup (broiler) telah mulai bangkit sedikit demi sedikit. Tentu ini menjadi angin segar bagi kalangan peternak unggas yang sempat mengalami depresiasi harga cukup signifikan. Patut dipahami semangat produktivitas peternak harus dijaga agar Indonesia dapat terus berdikari di sektor perunggasan dengan kondisi tanpa impor.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengajak kepada seluruh pihak yang terkait untuk dapat saling menjaga kewajaran harga telur ayam ras dan ayam broiler di tingkat peternak. Hal ini menjadi salah satu kunci agar produksi unggas dalam negeri terus berkesinambungan.
"Sekarang harga sudah mulai naik, ini memang harus pemerintah lakukan. Kenapa? kita kan negara produsen, tentu harganya harus wajar. Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya jatuh dalam sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita harus impor," ucap Ketut di Pasar Tebet Timur, Jakarta dikutip Rabu (22/7).
Adapun Indonesia telah mencatatkan surplus untuk telur dan daging ayam. Dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi telur ayam ras Januari-Juli tahun ini diestimasikan dapat mencapai 4,17 juta ton. Sementara kebutuhan telur ayam ras di periode yang sama berkisar 3,8 juta ton.
Untuk daging ayam ras, estimasi produksi Januari-Juli dapat mencapai 2,93 juta ton. Ini telah melampaui kebutuhan nasional Januari-Juli yang diperkirakan 2,34 juta ton. Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga keberlangsungan peternak unggas dalam negeri. Salah satunya memastikan kewajaran harga peternak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kendati demikian, menukil data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga yang diterima peternak unggas menurun sejak Maret 2026. Maret 2026 masih berada di indeks 138,19. Selanjutnya hingga Juni 2026 semakin menurun 10,96 poin indeks menjadi 127,23. Indeks Juni 2026 tersebut merupakan yang paling rendah kedua sepanjang tahun 2026 setelah Januari 2026 sempat berada di 127,19.
"Bapanas sekali lagi, sebagaimana arahan Bapak Kepala Bapanas beserta Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dan Kementerian Perdagangan, semua bergerak, agar bagaimana mengupayakan harga telur kembali mulai baik. Untuk harga ayam pun sama," ujar Ketut.
"Kebetulan pada saat kemarin, itu ada dua masalahnya. Pertama, bulan Suro. Kedua, libur MBG (Makan Bergizi Gratis). Tentu demand nya menurun. Harganya memang sangat turun. Nah sekarang sudah mulai berangsur-angsur naik. Ini permintaan akan lebih banyak, harga akan lebih bagus," tambah Deputi Bapanas Ketut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pantauan harga oleh Bapanas, per 21 Juli rerata harga telur ayam ras dan ayam broiler di tingkat peternak secara nasional kompak mengalami kenaikan. Masing-masing mengalami eskalasi harga 3,15 persen dan 2,68 persen dalam seminggu terakhir.
Kendati demikian, rerata harga telur dan daging ayam ras di tingkat konsumen meski ada kenaikan, namun belum menyentuh plafon Harga Acuan Penjualan (HAP). Oleh karena itu, tren positif harga yang sedang bertumbuh saat ini patut dipahami sebagai bentuk proses menuju kewajaran harga seiring dengan produksi dalam negeri yang juga terus bertumbuh.
Untuk harga telur di tingkat peternak per 21 Juli tercatat berada di Rp 23.676 per kilogram (kg) atau naik 3,15 persen setelah seminggu yang lalu masih berada di Rp 22.952 per kg. Jawa Timur menjadi daerah dengan rerata harga telur peternak paling rendah di Rp 22.456 per kg, sementara Sulawesi Utara tercatat paling tinggi di Rp 28.240 per kg.
Terhadap rerata harga ayam broiler di tingkat peternak secara nasional telah mencapai Rp 22.477 per kg berat hidup per 21 Juli atau bergerak naik 2,68 persen setelah pada sepekan sebelumnya berada di Rp 21.891 per kg berat hidup. Daerah dengan rerata harga paling rendah ada di Banten dengan Rp 20.375 per kg berat hidup dan paling tinggi di Sumatera Barat dengan Rp 25.714 per kg.
"Kenaikan harga tentu dapat memberikan andil terhadap inflasi, tetapi ini perlu dilihat secara utuh. Sebelumnya masyarakat juga menikmati harga yang relatif murah. Tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan agar harga tidak melonjak terlalu tinggi, namun juga tidak jatuh terlalu rendah sehingga tetap melindungi kepentingan konsumen sekaligus memberikan kepastian usaha bagi peternak. Nah, sekarang ini memang mulai mengalami kenaikan, tetapi selama masih berada dalam koridor HAP, kondisinya relatif masih baik," ujar Deputi Ketut.
Sebagaimana data BPS, komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras mulai mengalami deflasi yang cukup dalam sejak April 2026. Deflasi telur pada April tercatat sebesar 4,29 persen dan semakin jatuh menjadi 5,14 persen pada Mei. Sementara deflasi daging ayam ras di April di 6,20 persen dan sedikit bangkit pada Mei menjadi deflasi 3,83 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!