Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

WEF Kritik Penilaian Pembiayaan Tiongkok

📅 Senin, 20 Jul 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
WEF Kritik Penilaian Pembiayaan Tiongkok Doc: afp
Ket. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF)

Jenewa - Sejumlah lembaga riset internasional dinilai keliru mengategorikan pembiayaan dari bank-bank komersial Tiongkok sebagai bentuk subsidi karena menggunakan tolok ukur yang tidak mencerminkan kondisi pasar di negara berkembang. Akibatnya, kesimpulan yang dihasilkan dinilai berpotensi menyesatkan.

Pandangan tersebut disampaikan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di situs Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF). Artikel itu ditulis bersama oleh Sekretaris Jenderal China Modern Finance Society Yang He dan tiga pakar lainnya.

Dikutip dari Antara pada Minggu (19/7), menurut artikel tersebut, sejumlah laporan kebijakan industri dari organisasi internasional, termasuk Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), menyebut bank-bank komersial Tiongkok memberikan pembiayaan bersuku bunga "di bawah tingkat pasar" kepada perusahaan-perusahaan domestik. Temuan itu kemudian dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya subsidi industri dalam skala besar.

Namun, para penulis menilai metodologi tersebut menggunakan tolok ukur pasar yang tidak sesuai dengan karakteristik sistem keuangan dan praktik perbankan di Tiongkok.

Mereka mencontohkan penggunaan Loan Prime Rate (LPR) sebagai acuan bebas risiko (risk-free benchmark). Menurut mereka, pendekatan itu memunculkan anggapan keliru bahwa setiap pinjaman dengan bunga di bawah LPR otomatis merupakan pembiayaan di bawah harga pasar.

Padahal, LPR hanya berfungsi sebagai suku bunga acuan dalam penetapan harga pinjaman. Dalam praktiknya, bank-bank komersial tetap menetapkan suku bunga berdasarkan profil risiko masing-masing debitur, termasuk tingkat kelayakan kredit dan kualitas agunan.

Dengan demikian, suku bunga yang berada di bawah LPR lebih mungkin mencerminkan rendahnya risiko kredit atau tingginya kualitas jaminan, bukan karena adanya perlakuan istimewa atau subsidi dari pemerintah.

Para penulis juga menguji metodologi OECD terhadap sampel penerbit obligasi korporasi di Amerika Serikat (AS). Hasilnya menunjukkan pola serupa, yakni banyak pembiayaan yang juga dikategorikan sebagai "di bawah tingkat pasar".

Temuan tersebut dinilai menunjukkan bahwa pemilihan tolok ukur memiliki pengaruh besar terhadap kesimpulan mengenai ada atau tidaknya unsur subsidi dalam suatu pembiayaan.

Dalam analisis lanjutan, para penulis menyusun tolok ukur yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi pasar keuangan dan sektor korporasi di Tiongkok. Hasilnya, rata-rata biaya pembiayaan perusahaan dalam sampel justru tercatat sekitar 0,2 poin persentase lebih tinggi dibandingkan tolok ukur tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Pameran Batik Jadi Pilihan ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.