Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ekonom Usulkan Keringanan PPh bagi Kelas Menengah untuk Dongkrak Daya Beli dan Konsumsi Nasional

📅 Jumat, 10 Jul 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ekonom Usulkan Keringanan PPh bagi Kelas Menengah untuk Dongkrak Daya Beli dan Konsumsi Nasional Doc: Antara
Ket. Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet.

Jakarta – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengusulkan pemerintah memberikan keringanan Pajak Penghasilan (PPh) bagi masyarakat berpendapatan menengah sebagai salah satu langkah untuk memperkuat daya beli dan menjaga konsumsi rumah tangga.

Menurut Yusuf, kebijakan tersebut dapat meningkatkan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) sehingga mampu mendorong konsumsi masyarakat di tengah meningkatnya tekanan biaya hidup.

"Salah satu opsi adalah memberikan keringanan Pajak Penghasilan bagi kelompok berpendapatan menengah agar pendapatan yang dapat dibelanjakan meningkat secara langsung," kata Yusuf di Jakarta, Kamis (9/7).

Selain relaksasi PPh, ia juga mengusulkan perluasan program refinancing atau subsidi bunga untuk kredit perumahan dan pembiayaan usaha agar beban cicilan masyarakat dapat berkurang tanpa harus mengubah suku bunga acuan.

Menurut dia, pemerintah juga perlu memperluas insentif untuk kebutuhan esensial, seperti pendidikan dan kesehatan, terutama bagi kelompok lower middle class yang dinilai paling rentan turun ke kelompok berpendapatan rendah.

Dalam jangka panjang, Yusuf menilai pemerintah perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif, meningkatkan kualitas dan keterampilan tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan upah riil yang sejalan dengan peningkatan produktivitas.

Yusuf mengatakan berbagai paket stimulus pemerintah, mulai dari masa pandemi COVID-19 hingga paket stimulus pada 2025 dan semester II 2026, memang berhasil mendorong konsumsi dalam jangka pendek melalui diskon transportasi, bantuan pangan, dan berbagai insentif lainnya.

Namun, menurutnya, sebagian besar kebijakan tersebut lebih banyak menyasar kelompok masyarakat berpendapatan rendah sehingga manfaat yang diterima kelas menengah masih relatif terbatas.

Padahal, lanjut Yusuf, kelas menengah merupakan motor utama konsumsi domestik. Karena itu, pelemahan daya beli kelompok ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Di sisi lain, tekanan terhadap kelas menengah terus meningkat. Meskipun inflasi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, kenaikan suku bunga menyebabkan cicilan rumah, kendaraan, dan kredit konsumsi menjadi lebih mahal.

Sementara itu, kenaikan pendapatan belum mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup, terutama di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut menyebabkan daya beli riil masyarakat tertekan dan mendorong perubahan pola konsumsi menjadi lebih hemat.

Menurut Yusuf, stimulus yang ada juga masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh persoalan mendasar, seperti stagnasi upah riil, tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, serta mahalnya biaya pembiayaan akibat suku bunga yang tinggi.

Ia menambahkan, desain stimulus perlu disesuaikan dengan karakteristik kelas menengah yang tidak homogen karena setiap kelompok menghadapi tekanan ekonomi yang berbeda.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pesawat Wisata Jatuh di Peru, 13 Orang Tewas

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Luar Negeri
Pesawat Wisata Jatuh di Per...
Luar Negeri
Retno: Krisis Air Semakin B...

Aldila Sutjiadi Juara Ganda WTA 500 DC Open 2026

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Olahraga
Aldila Sutjiadi Juara Ganda...

Viral! 60 Ribu Migran Maroko Nekat Masuk Spanyol, Puluhan Tewas di Perbatasan

Viral! 60 Ribu Migran Maroko Nekat Masuk Spanyol, Puluhan Tewas di Perbatasan

01 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.