Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Zulkifli Hasan Perkenalkan Lahsamor, Teknologi BRIN yang Mampu Kurangi Sampah Rumah Tangga

📅 Rabu, 08 Jul 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Zulkifli Hasan Perkenalkan Lahsamor, Teknologi BRIN yang Mampu Kurangi Sampah Rumah Tangga Doc: Antara
Ket. Menko Pangan Zulkifli Hasan kenalkan teknologi lahsamor BRIN sebagai alternatif penyelesaian sampah organik di Denpasar, Bali, Selasa (7/7).

Denpasar - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik atau "lahsamor" sebagai alternatif penanganan masalah sampah di Pulau Bali.

“Hari ini tadi ya apel pemilahan sampah karena kuncinya itu memang di pemilahan organik anorganik, nah ini ada alat, ini buatan BRIN,” kata Zulkifli di Denpasar pada Selasa (7/7).

Dalam Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon itu, Zulkifli meninjau langsung proses kerja "lahsamor", yang dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga setiap hari.

Dengan teknologi berbahan dasar drum itu, maka 40 persen sampah harian rumah tangga bisa ditekan masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), kendati masih terbatas pada penggunaan skala rumah tangga.

“Alatnya kecil tapi ini bisa mengolah 1 kg per hari, 3 tahun tidak penuh-penuh, tapi saya minta juga yang agak besar. Bisa untuk misalnya 50 kg ya. Jadi 50 kg untuk satu sekolah itu pas,” ujar Menko Bidang Pangan.

"Lahsamor" sendiri digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Inovasi itu tidak dimaksudkan untuk mengganti inovasi lainnya seperti teba moderen di Bali, melainkan alternatif pendukung bagi masyarakat yang tidak memungkinkan membuat teba di pekarangan.

Teknologi ini bekerja dengan cara memasukkan sampah organik busuk 0,5 kg hingga 1 kg per hari kemudian memutar tuas sebanyak lima kali.

Hal yang membuat berbeda dari kantung kompos yang banyak digunakan yakni hasil komposter kantung kompos harus diambil dan membutuhkan berbagai bahan campuran, sementara "lahsamor" hanya perlu dibuka dan diputar sehingga kompos jatuh dengan sendirinya.

Meski kini beragam solusi hadir, Menko Pangan mengingatkan bahwa pilah sampah menjadi langkah utama dalam menyelesaikan persoalan sampah.

Jika di rumah terasa sulit karena mengubah kebiasaan, menurut dia semestinya tidak sulit diterapkan di sekolah, kantor, atau mal karena lebih terorganisir.

Selanjutnya ketika sampah terpilah dan sampah organik tertangani, maka hadir sejumlah teknologi yang lebih besar untuk mengolah sampah anorganik seperti PSEL yang akan mulai dibangun di Bali pada 8 Juli 2026.

“Kita akan luncurkan PSEL atau Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik. Ini bisa menyelesaikan open dumping yang sekarang menjadi masalah utama kita, sudah kategori darurat seperti kemarin terjadi di Jatiwaringin kebakaran, lalu sebelumnya Bantar Gebang ada tujuh meninggal,” kata Zulkifli.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Kalah Telak di Piala AFF: T...
Olahraga
Daftar 18 Pemain Voli Putra...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.