Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Layanan Dasar Kota Jakarta Belum Memadai, Warga Bergelut dengan Polusi Buruk dan Kemacetan Parah

📅 Senin, 06 Jul 2026, 01:25 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Untuk mengatasi hal itu, Tata mendorong pemerintah memprioritaskan perluasan layanan publik dan menerjemahkannya ke kebijakan konkret.

Diminta pada kesempatan lain, Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna menilai penambahan luas ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta masih sedikit dalam 20 tahun terakhir. Padahal RTH yang tidak hanya berperan menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga menjadi ruang bersama yang dapat dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas sosial, edukasi, hingga ekonomi.

“Hingga kini, proporsi RTH ibu kota belum pernah mendekati target ideal 30 persen. Bahkan data yang ada kalau menyangkut RTH, ini sebetulnya masalah lama. Capaian RTH Jakarta jelas kurang dari 10 persen, hanya sekitar 7–8 persen,” katanya.

Yayat menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi harus mengoptimalkan pengembangan dan memaksimalkan pemanfaatan RTH sebagai fungsi ekologis, yaitu untuk penyerap polusi udara, serta penyerap air alami atau pengendali banjir.

“Pengelolaan hutan kota atau RTH yang dilakukan saat ini belum maksimal dan perlu adanya pembenahan secara menyeluruh, Pemprov DKI Jakarta bisa banyak belajar tentang standar panduan pengelolaan hutan kota di Singapura, Melbourne, dan Tokyo,” katanya.

Menurut Yayat, sejak beberapa tahun terakhir konsep RTH di Jakarta juga mengalami pergeseran, tidak lagi semata berbentuk hamparan lahan luas. Menurutnya, Pemprov DKI kini memasukkan konsep RTH buatan sebagai bagian dari perhitungan, seperti taman vertikal, rooftop garden, hingga area resapan air. Namun, secara faktual, pendekatan ini belum mampu menutup keterbatasan ruang terbuka berbasis lahan.

“Tidak semua taman di Jakarta mampu memfasilitasi aktivitas masyarakat karena skala dan kapasitasnya terbatas. Jumlah taman dengan jumlah penduduk itu tidak seimbang. Yang betul-betul bisa dimanfaatkan warga adalah taman skala kota,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Perum Bulog Belitung Pastik...
Daerah
Pemkab Pasaman Barat Minta ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.