“Capital Inflow” Dinilai Kunci Stabilisasi Rupiah
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiPelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi nasional, melainkan bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan setelah berbagai kebijakan moneter yang diterapkan.
Jakarta – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) disarankan memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal guna meningkatkan aliran masuk (capital inflow) ke pasar obligasi domestik sebagai upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai penguatan rupiah saat ini sangat bergantung pada meningkatnya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN).
“Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar,” kata Fakhrul di Jakarta, Kamis (2/7).
Menurut dia, untuk menarik arus modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia harus mampu menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif dibandingkan risiko global yang masih tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” ujarnya.
Fakhrul menilai pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi nasional, melainkan bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan setelah berbagai kebijakan moneter diterapkan BI.
Ia menjelaskan stabilisasi nilai tukar tidak dapat terjadi secara instan karena pasar obligasi masih menjadi pintu utama masuknya investasi portofolio asing. Oleh karena itu, kebijakan pengetatan likuiditas yang ditempuh BI perlu didukung oleh konsistensi kebijakan fiskal agar proses normalisasi pasar obligasi berjalan optimal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan perlu terus diperkuat sehingga tingkat imbal hasil obligasi dapat terbentuk secara wajar sesuai mekanisme pasar dan tetap kompetitif dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.
Fakhrul juga menilai yang dibutuhkan saat ini bukan tambahan intervensi di pasar, melainkan konsistensi kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
“Ketika pasar melihat bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh lebih kuat,” katanya.
Sentimen Domestik
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas, BI telah menaikkan BI-Rate secara bertahap sepanjang 2026. Setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei, BI kembali menaikkan BI-Rate masing-masing 25 basis poin pada 9 Juni dan 18 Juni hingga mencapai 5,75 persen. BI juga memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga daya tarik investasi portofolio asing.
Meski demikian, nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/7), kurs rupiah melemah 43 poin menjadi 17.995 rupiah per dollar AS, sedangkan kurs JISDOR Bank Indonesia berada di level 17.994 rupiah per dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!