- Home
-
- Luar Negeri
-
- Penutupan Selat Hormuz Gun...
Penutupan Selat Hormuz Guncang Dunia, Tiongkok Justru Jadi Pemenang Terbesar
Rabu, 01 Jul 2026, 00:00 WIBBEIJING - Ketika sebagian besar negara Asia berjibaku menghadapi lonjakan harga energi akibat krisis di Selat Hormuz, Tiongkok justru dinilai berada pada posisi paling menguntungkan. Cadangan minyak yang besar serta pesatnya pengembangan energi terbarukan membuat Negeri Tirai Bambu mampu meredam dampak krisis, bahkan berpeluang meraih keuntungan ekonomi.
Kesimpulan tersebut disampaikan dalam laporan terbaru lembaga riset Asia Group. Menurut laporan itu, Tiongkok menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu melewati gejolak energi global dengan relatif aman setelah jalur pelayaran Selat Hormuz terganggu akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Sejak Iran menghentikan sebagian besar lalu lintas ekspor minyak dan gas melalui Selat Hormuz menyusul operasi militer Amerika Serikat dan Israel, harga energi dunia melonjak tajam. Kawasan Asia menjadi yang paling terdampak karena sebelum krisis, sekitar 80 persen minyak dan hampir 90 persen gas alam cair yang melintasi selat tersebut dikirim ke negara-negara Asia.
Namun kondisi itu tidak terlalu mengguncang Tiongkok. Selama bertahun-tahun Beijing telah membangun cadangan minyak strategis dalam jumlah besar. Hingga awal 2026, stok minyak Tiongkok diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan impor selama lebih dari 100 hari.
Di sisi lain, Tiongkok terus mempercepat transisi menuju energi bersih. Sepanjang 2025, negara itu memasang pembangkit listrik tenaga surya baru berkapasitas 315 gigawatt, lebih dari separuh total penambahan kapasitas surya dunia. Pemerintah Tiongkok juga menargetkan setengah kebutuhan energinya berasal dari sumber non-fosil pada 2030.
Tak hanya lebih tahan terhadap gejolak energi, China juga diperkirakan menikmati lonjakan permintaan global terhadap produk energi bersih. Ekspor kendaraan listrik asal Tiongkok tercatat melonjak lebih dari 110 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara pengiriman panel surya juga meningkat tajam.
Laporan tersebut juga menilai krisis ini memberi keuntungan diplomatik bagi Beijing. Tiongkok dapat memperkuat citranya sebagai pihak yang menyerukan stabilitas, sementara keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Timur Tengah dinilai memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa Beijing tetap menghadapi sejumlah risiko. Ketidakstabilan kawasan Timur Tengah masih dapat mengganggu perdagangan global, sementara konflik tersebut juga menjadi pelajaran penting mengenai tantangan operasi militer di wilayah yang dipenuhi ancaman, termasuk jika suatu saat Tiongkok menghadapi skenario konflik di Selat Taiwan.
Meski masih dibayangi berbagai risiko, Asia Group menyimpulkan bahwa dibandingkan negara-negara Asia lainnya, Tiongkok berada pada posisi paling siap menghadapi krisis dan bahkan berpeluang memanfaatkan perubahan tatanan ekonomi global yang muncul akibat konflik di Timur Tengah.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Selat Hormuz Memanas, Walhi Ingatkan Risiko Energi Fosil dan Dorong Transisi Berkeadilan
-
10 Tahun Drama "Goblin", Para Pemainnya Bakal Reuni dan Lakukan Perjalanan Bersama
-
Jepang Janjikan Dana 10 Miliar Dollar AS Bantu Negara ASEAN Atasi Krisis Minyak
-
Nepal Umumkan Libur Dua Hari untuk Mengatasi Krisis Energi Akibat Perang di Iran
-
Gus Ipul Minta Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Santriwati di Pati Dihukum Seumur Hidup
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.