Pemerintah Didorong Percepat Transformasi Ekonomi Hijau

Kamis, 13 Agu 2026, 01:00 WIB

Pembangunan ekonomi hijau diperlukan untuk merespons perubahan iklim sekaligus menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Jakarta – Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi menilai ekonomi hijau penting diterapkan karena dampak perubahan iklim semakin nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ket. Foto: Putra Adhiguna Managing Director ESI - Pembangunan di dalam renewable energy itu berjalan jauh lebih cepat. — Sumber: antara

“Mengapa ini (ekonomi hijau) penting untuk masyarakat, untuk penduduk kita? Karena memang dampaknya (perubahan iklim) sangat konkret,” kata Nizhar, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (12/8).

Menurut dia, ekonomi hijau merupakan model pembangunan yang berupaya menyeimbangkan peningkatan kesejahteraan dengan keberlanjutan lingkungan. Model tersebut tetap mendorong investasi, pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus mengembangkan keterampilan tenaga kerja melalui green jobs serta mendorong kegiatan yang lebih ramah lingkungan.

Nizhar mengatakan dampak perubahan iklim seperti cuaca yang semakin tidak menentu, banjir, kekeringan, hingga kenaikan permukaan air laut sudah terjadi di berbagai wilayah.

Salah satu upaya yang disiapkan Bappenas adalah Green Indonesia Future Initiative (GIFT), program kolaborasi dengan Global Green Growth Institute (GGGI) yang bertujuan memperkuat kapasitas kelembagaan, menginisiasi investasi hijau, serta mempercepat pengembangan fondasi ekonomi hijau di Indonesia.

Nizhar menjelaskan GIFT dirancang untuk mengintegrasikan tiga aspek yang selama ini berjalan secara terpisah, yakni perencanaan kebijakan, mobilisasi investasi, dan implementasi.

“Ini ingin diintegrasikan dalam suatu kerja sama yang baik dan sinergi, sehingga nanti diharapkan GGGI dengan kapasitasnya bisa membawa dan menghadirkan keahlian dari sisi investasi hijau, baik keahlian maupun investasinya di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Nizhar, Bappenas tetap memiliki peran untuk memastikan seluruh kegiatan dan investasi yang masuk melalui kerja sama tersebut selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

“Sementara Indonesia, dalam hal ini Bappenas, juga punya kewajiban untuk memastikan bahwa semua kegiatan dan semua investasi tersebut juga tetap selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” katanya.

Melalui GIFT, Bappenas berharap percepatan ekonomi hijau dapat memberikan dampak yang lebih luas, terutama melalui penciptaan lapangan kerja hijau, peningkatan akses terhadap energi terbarukan, dan pemerataan manfaat pembangunan di berbagai daerah.

Jadi Momentum

Sementara itu, Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai perkembangan investasi energi bersih global menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri hijau dalam negeri.

Ia mengatakan investasi energi bersih global telah melampaui investasi bahan bakar fosil dalam dua hingga tiga tahun terakhir.

“Pembangunan di dalam renewable energy itu berjalan jauh lebih cepat. Dan ini adalah persimpangan untuk Indonesia mulai berpikir,” kata Putra.

Putra mencontohkan Tiongkok yang sejak 2021 berkomitmen menghentikan pendanaan pembangkit listrik tenaga batu bara di luar negeri. Menurut dia, meskipun pembangunan pembangkit batu bara di Tiongkok masih berlangsung, tingkat pemanfaatannya telah mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

Tiongkok juga mengumumkan inisiatif Zero Emission Industrial Park pada Juni tahun lalu sebagai bagian dari upaya meningkatkan standar pengembangan industri rendah emisi.

Menurut Putra, perkembangan tersebut menunjukkan Tiongkok kini menjadi salah satu motor utama transisi energi global, menggantikan dominasi negara-negara Barat dalam mendorong perkembangan energi bersih.

Ia juga menyoroti perkembangan energi surya di India yang disebut mampu membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas setara PLTS Cirata, pembangkit surya terbesar di Indonesia, setiap lima hari.

“Ketika kita berbicara climate risk, climate opportunity, kita tengah berada di persimpangan. Bukan hanya berbicara risikonya, tetapi juga opportunity,” ujar Putra.

  • Transisi Energi

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.