- Home
-
- Luar Negeri
-
- Harga BBM di Inggris Melon...
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
Sabtu, 28 Mar 2026, 15:17 WIBLONDON - Sejumlah SPBU di Inggris mengalami kendala pasokan sementara pada Jumat (27/3) seiring kian tingginya harga BBM akibat gangguan pasokan global dan lonjakan permintaan.
Menurut laporan Guardian, harga bensin di negara itu telah mencapai level tertinggi sejak Mei 2024 karena pengecer bahan bakar terus menaikkan biaya di SPBU.
RAC melaporkan Jumat pagi bahwa harga bensin telah naik melewati angka 150 pence (£1,5) atau sekitar Rp33.800, dengan harga rata-rata sekarang 150,11 pence per liter .
Harga rata-rata solar sekarang adalah 177,68 pence (£1,77) per liter atau sekitar Rp40.041.
Tepat sebelum perang Iran dimulai, harga bensin rata-rata adalah 132,83 pence per liter, dan harga solar adalah 142,38 pence per liter.
Kepala kebijakan RAC, Simon Williams, mengatakan para pengendara akan merasakan biaya tambahan jika mereka berkendara pada liburan Paskah ini.
"Dengan libur Paskah empat hari yang telah lama ditunggu-tunggu hampir tiba, biaya untuk berlibur dengan mobil akan terasa jauh lebih tinggi tahun ini."
"Dengan harga rata-rata di tempat peristirahatan jalan tol sebesar 166p untuk bensin tanpa timbal dan 182p untuk solar, pengemudi yang melakukan perjalanan jauh perlu merencanakan dengan sangat hati-hati di mana mereka mengisi bahan bakar."
"Saran terbaik tetaplah membandingkan harga bahan bakar dan memanfaatkan aplikasi gratis seperti myRAC agar tidak pernah membayar lebih dari yang benar-benar diperlukan untuk bahan bakar," kata Williams.
CEO Asda, Allan Leighton, mengatakan "sebagian kecil" SPBU milik perusahaannya mengalami kendala sementara. Asda merupakan pengecer bahan bakar terbesar kedua di Inggris.
"Kami melihat peningkatan permintaan yang sangat tinggi akibat volatilitas harga," kata Leighton, seraya menambahkan bahwa volume penjualan BBM meningkat signifikan.
"Permintaan telah melampaui pasokan. Pasokan sedang ketat, dan kami bekerja keras mengatasinya. Gangguan ini bersifat sementara, meski mungkin berlanjut selama periode pengiriman," katanya.
Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, lalu lintas di Selat Hormuz â jalur utama perdagangan energi global â hampir terhenti, sehingga menekan pasokan serta mengerek harga minyak dan gas.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Krisis Energi Global: IEA Sebut Dampaknya Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
-
Jepang Janjikan Dana 10 Miliar Dollar AS Bantu Negara ASEAN Atasi Krisis Minyak
-
10 Tahun Drama "Goblin", Para Pemainnya Bakal Reuni dan Lakukan Perjalanan Bersama
-
Nepal Umumkan Libur Dua Hari untuk Mengatasi Krisis Energi Akibat Perang di Iran
-
Pengusaha Pengantaran Komit untuk Mengikuti Aturan Bonus Hari Raya untuk Ojol
-
Gubernur Pramono Lantik 473 Anggota Satpol PP dan Puluhan Guru Baru
-
Selat Hormuz Memanas, Walhi Ingatkan Risiko Energi Fosil dan Dorong Transisi Berkeadilan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.