- Home
-
- Luar Negeri
-
- Krisis Energi Global: IEA ...
Krisis Energi Global: IEA Sebut Dampaknya Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
Senin, 23 Mar 2026, 18:25 WIBJAKARTA - Kepala International Energy Agency memperingatkan bahwa guncangan pasokan energi global akibat konflik di Iran berpotensi melampaui gabungan krisis minyak tahun 1970-an dan dampak perang di Ukraina. Kondisi ini disebut sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap stabilitas energi dunia dalam beberapa dekade terakhir.
Direktur eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut krisis ini tidak hanya berdampak pada minyak dan gas, tetapi juga sektor vital lain seperti pupuk, petrokimia, dan sulfur. Ia menilai gangguan tersebut menyerang "urat nadi ekonomi global" yang selama ini menopang berbagai industri.
Birol menambahkan, dampak awal dari serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, sempat diremehkan oleh para pemimpin dunia. Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.
Dalam upaya meredam tekanan harga energi, IEA mendorong langkah penghematan dari sisi permintaan. Beberapa di antaranya termasuk memperluas kebijakan kerja dari rumah, menurunkan batas kecepatan kendaraan, hingga mengurangi perjalanan udara.
Meski konflik berpotensi mereda, pemulihan pasokan energi diperkirakan tidak akan berlangsung cepat. Birol menyebut sedikitnya 40 aset energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan berat hingga sangat parah.
Dari sisi angka, krisis kali ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan peristiwa sebelumnya. Pada krisis minyak 1973 dan 1979, sekitar 5 juta barel minyak per hari hilang dari pasar global, sementara perang di Ukraina pada 2022 mengurangi sekitar 75 miliar meter kubik gas.
Sebaliknya, konflik saat ini telah memangkas produksi minyak hingga 11 juta barel per hari dan mengurangi pasokan gas sekitar 140 miliar meter kubik. Skala ini membuat krisis yang terjadi disebut sebagai kombinasi dari dua krisis minyak dan satu krisis gas sekaligus.
"Krisis ini adalah gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas," ujar Birol.
IEA sebelumnya telah mengambil langkah darurat dengan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis pada 11 Maret. Kebijakan ini menjadi salah satu intervensi terbesar dalam sejarah organisasi tersebut untuk menjaga stabilitas pasar energi.
Namun, Birol menegaskan bahwa pelepasan cadangan hanya bersifat sementara dan bukan solusi jangka panjang. Ia menyebut langkah tersebut hanya mampu meredam dampak negatif terhadap perekonomian global.
Di tengah situasi tersebut, ketegangan geopolitik terus meningkat. Presiden Donald Trump dilaporkan memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Sebagai respons, Iran menyatakan akan menargetkan infrastruktur energi milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Ketegangan ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global dalam waktu yang belum dapat dipastikan.
- Krisis Energi Global
- Minyak Dunia
- Harga Minyak Dunia
- Badan Energi Internasional (IEA)
- Penutupan Selat Hormuz
- Eskalasi Geopolitik
- Konflik AS-Iran
- selat hormuz
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5%, Optimisme Meningkat atas Kesepakatan AS-Iran.
-
Inggris Kirim Kapal Tempur ke Timur Tengah, Siap Amankan Selat Hormuz
-
Selat Hormuz Mulai Pulih, Arus Minyak Dunia Kembali Normal
-
Selat Hormuz Macet, Perusahaan Pelayaran Kini Banting Setir ke Jalur Darat
-
Iran Kembali akan Tutup Selat Hormuz sebagai Protes Serangan Israel di Lebanon
-
AS Buka Jalur Bagi 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan Lintasi Selat Hormuz
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.