Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Pertahankan Harga BBM Subsidi dan LPG 3 Kg

📅 Minggu, 21 Jun 2026, 13:08 WIB | Oleh:
Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Pertahankan Harga BBM Subsidi  dan LPG 3 Kg Doc: antara foto
Ket. Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman

JAKARTA - Keputusan pemerintah mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yakni Pertalite, Bio-Solar, dan LPG 3 kilogram dinilai menjadi langkah yang tepat dalam menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global saat ini.

Pernyataan tersebut diungkapkan Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman.

“Kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat luas,” kata Abdul Rahman di Jakarta, Minggu (21/6).

Sektor transportasi publik dan distribusi barang yang menjadi tulang punggung perekonomian masih didominasi penggunaan BBM bersubsidi.

Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan langkah yang tepat karena dapat menjaga daya beli masyarakat dan menahan tekanan inflasi,"katanya.

Ia menjelaskan bahwa distribusi barang dan jasa di Indonesia mayoritas masih menggunakan BBM bersubsidi sehingga penyesuaian harga Pertamax tidak akan berdampak signifikan terhadap biaya logistik maupun harga kebutuhan pokok.

Ia menambahkan untuk distribusi barang dan jasa, mayoritas masih menggunakan BBM bersubsidi sehingga tidak berdampak signifikan terhadap biaya logistik maupun harga kebutuhan pokok.

“Karena itu, dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas," ujar mantan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin ini.

Dirinya menilai kenaikan harga Pertamax yang merupakan BBM non-subsidi perlu disikapi secara lebih bijak.

Penyesuaian harga Pertamax pada dasarnya mengikuti nilai keekonomian energi, termasuk dampak kenaikan harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik internasional termasuk konflik di kawasan Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak global.

“Kenaikan harga Pertamax bukanlah keputusan yang mudah. Semakin lama Pertamina menahan penyesuaian harga di bawah nilai keekonomiannya, maka semakin besar pula beban keuangan yang harus ditanggung oleh Pertamina maupun pemerintah," kata dia.

Ia menyebutkan bahwa konsumen Pertamax umumnya berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas yang memiliki kemampuan lebih besar untuk menyesuaikan pola konsumsi mereka.

Sementara itu, penyesuaian harga Pertamax pada dasarnya hanya mengharuskan konsumennya menyesuaikan pola pemakaian.

“Konsumen Pertamax umumnya memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian tersebut," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.