Rupiah Hari Ini Tertekan, Pasar Menahan Napas Menanti Putusan The Fed
📅 Rabu, 17 Jun 2026, 17:43 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam menghadapi ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Investor cenderung menahan risiko dan meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar AS sambil menunggu sinyal terkait prospek suku bunga ke depan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu sore, ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.762 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.725 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah muncul optimisme terkait kesepakatan yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah.
"Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut," ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.
Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan bank sentral AS atau The Fed.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, namun investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.
"Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut 'plot titik' untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," tutur Ibrahim.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa kesempatan terakhir menaikkan suku bunganya atau BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Ibrahim menilai langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!