Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Website Tak Lagi Cukup Menarik, Kepercayaan Digital Kini Jadi Penentu

📅 Jumat, 12 Jun 2026, 15:37 WIB | Oleh:
Website Tak Lagi Cukup Menarik, Kepercayaan Digital Kini Jadi Penentu Doc: Exabytes Indonesia
Ket. (kiri) Ibnu Syifa Takbir Adha pemenang kategori Site of The Year 2026 untuk Personal Category dalam Indonesia Website Awards (IWA) 2026 yang digelar di Jakarta pada hari Kamis (11/6). Ajang ini menyoroti pentingnya kepercayaan digital di tengah meningkatnya ancaman siber berbasis AI. Ajang ini juga memberikan penghargaan bagi website terbaik Indonesia.

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat tidak hanya membawa kemudahan dalam membangun website, tetapi juga menghadirkan berbagai ancaman siber baru. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam gelaran Indonesia Website Awards (IWA) 2026 yang diselenggarakan Exabytes Indonesia di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).

Mengusung tema "Securing Digital Trust in the AI Threat Era", ajang penghargaan tahunan yang telah berlangsung sejak 2017 itu menekankan pentingnya kepercayaan digital sebagai fondasi utama keberhasilan bisnis di dunia maya.

Vice President dan Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, mengatakan bahwa tantangan terbesar pengembang website saat ini tidak lagi terletak pada kemampuan teknis membangun situs, melainkan menciptakan kepercayaan pengguna.

Menurutnya, kemajuan AI telah membuat proses pembuatan website menjadi jauh lebih mudah. Namun di saat yang sama, teknologi tersebut juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan yang semakin canggih, mulai dari deepfake, phishing otomatis, hingga eksploitasi celah keamanan berbasis AI.

"Tantangan terbesar para web developer saat ini bukan lagi soal tools atau tampilan. Karena proses creation itu sudah sangat mudah dengan bantuan AI. Yang paling sulit adalah membangun kepercayaan. Ada tiga hal yang harus selalu dipegang: kecepatan, keamanan, dan kepercayaan," kata Indra pada kesempatan tersebut.

Ia menambahkan, kepercayaan digital dibangun melalui kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data, audit keamanan yang konsisten, serta pengalaman pengguna yang baik. Karena itu, IWA terus memperbarui kriteria penilaiannya agar selaras dengan perkembangan industri digital.

Tahun ini, aspek authority digital dan Generative Engine Optimization (GEO) menjadi salah satu fokus utama penilaian. Kriteria tersebut dinilai penting agar website tidak hanya mudah ditemukan pengguna, tetapi juga dapat dikenali dan diindeks dengan baik oleh mesin AI generatif.

Dalam penyelenggaraan IWA 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yakni Web Excellence Commercial & E-commerce, Web Excellence Personal, Site of The Year, dan People’s Choice Digital Brand yang dipilih melalui pemungutan suara publik secara langsung.

Salah satu sorotan utama malam penghargaan adalah kemenangan Ibnu yang berhasil meraih penghargaan Web Excellence sekaligus Site of The Year.

Perjalanan Ibnu di dunia pengembangan website dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dengan keterbatasan akses internet pada masa itu, ia mengaku harus menumpang jaringan WiFi untuk mempelajari pemrograman secara mandiri.

"Perjalanan ini dimulai dari SMP, belajar coding dengan segala keterbatasan. Kini AI sangat membantu developer untuk mengamankan sistem dan menciptakan desain yang lebih baik. Tapi intinya tetap sama: keamanan, desain, dan kecepatan adalah tiga hal utama yang tidak boleh dikompromikan," ujarnya.

Selain malam penganugerahan, IWA 2026 juga menghadirkan sejumlah diskusi mengenai keamanan siber dan kepercayaan digital.

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Slamet Aji Pamungkas, membuka rangkaian acara dengan paparan mengenai perkembangan ancaman siber nasional. Sementara itu, Eryk Budi Pratama dari ICPAP membahas meningkatnya risiko serangan siber berbasis AI yang kini dapat dilakukan bahkan oleh individu dengan kemampuan teknis terbatas.

Pembahasan mengenai tantangan membangun kepercayaan di era deepfake disampaikan oleh kreator konten Reza Erfit. Adapun Peter J. Kambey dan Rio Burhan dari Rokettt Platform & Studio mengulas praktik perlindungan privasi data serta keamanan website.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz

13 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Iran Resmi Tutup Selat Hormuz
Nasional
Pemerintah Ungkap Efisiensi...
Nasional
Kemendikdasmen Dorong Pelay...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Event Seru di Jakarta Akhir Pekan 13-14 Juni: Serunya Jakarta Fair 2026 hingga JAKIM

Event Seru di Jakarta Akhir Pekan 13-14 Juni: Serunya Jakarta Fair 2026 hingga JAKIM

12 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.