Gubernur Jateng: UMKM Capai 4,2 Juta Pelaku dan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Daerah
📅 Selasa, 09 Jun 2026, 05:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSemarang – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayahnya telah mencapai 4,2 juta pelaku usaha dan menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“UMKM merupakan backbone ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang menjadi andalan kita, sehingga selalu kita bina,” kata Luthfi saat Rapat Paripurna DPRD Jawa Tengah di Gedung Berlian, Semarang, Senin (8/6).
Menurut dia, besarnya jumlah UMKM tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah tidak hanya berupaya mempertahankan keberlangsungan usaha para pelaku UMKM, tetapi juga mendorong mereka untuk naik kelas melalui berbagai program penguatan.
Program tersebut mencakup akses permodalan, pendampingan usaha, peningkatan kualitas dan kemasan produk, hingga perluasan pemasaran dan peluang masuk ke pasar ekspor.
Luthfi menegaskan Pemprov Jawa Tengah akan terus memperkuat pendampingan bagi pelaku UMKM agar semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi, termasuk dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain memperluas akses modal, pemerintah daerah juga fokus meningkatkan daya saing produk UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Terkait dampak pelemahan rupiah terhadap biaya bahan baku, Luthfi menilai upaya penguatan UMKM tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Menurutnya, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sektor jasa keuangan, perbankan, hingga pelaku usaha.
“Kita harus gandeng BI, kemudian OJK, kemudian bidang usaha, kemudian bank di tempat kita. Jadi bersama-sama untuk bisa menyelesaikan,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produk UMKM
Pada kesempatan terpisah, Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong agar produk-produk UMKM diprioritaskan masuk ke gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Menurut Ferry, penguatan koperasi saat ini harus masuk ke tahap yang lebih konkret melalui operasionalisasi KDKMP dan pengembangan kolaborasi usaha yang berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
“Penguatan koperasi kini harus masuk ke tahap yang lebih konkret, yakni operasionalisasi KDKMP dan pengembangan kolaborasi usaha yang berdampak langsung pada ekonomi warga,” katanya.
Ia menilai gerakan koperasi tidak hanya berfokus pada distribusi, tetapi juga perlu masuk ke sektor produksi kebutuhan sehari-hari dan pascaproduksi agar manfaat ekonominya semakin luas.
Ferry mencontohkan koperasi dapat mengembangkan berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, hingga produk pangan olahan yang berpotensi menghidupkan industri kecil di daerah.
“Kita bisa belajar buat sabun, sampo, detergen, sampai sambal sendiri. Itu bisa menghidupkan industri kecil dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Jateng serta menjadi terobosan untuk memecahkan berbagai masalah di masyarakat,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!