• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tekanan Global dan Pelemah...

Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah Bayangi Industri Minuman Kemasan Nasional

Kamis, 04 Jun 2026, 17:15 WIB

JAKARTA — Industri makanan dan minuman, khususnya sektor minuman kemasan, dinilai masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia dan dunia. Namun, pelaku industri menilai diperlukan langkah penguatan berkelanjutan agar sektor ini mampu mempertahankan pertumbuhan dan daya saing dalam jangka panjang.

Berdasarkan kajian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07 persen.

Ket. Foto: Para pembicara berfoto bersama usai melakukan konferensi pers bertajuk “Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026: Inovasi, Pertumbuhan dan Kolaborasi,” di Jakarta pada hari Kamis (4/6). Industri minuman kemasan nasional tetap tumbuh di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah. — Sumber: Asrim

Di dalam sektor tersebut, industri makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menjadikannya salah satu motor utama pertumbuhan manufaktur dan konsumsi domestik.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi industri. Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan bahwa permintaan terhadap produk minuman masih ditopang oleh momentum Ramadan dan Lebaran serta meningkatnya mobilitas masyarakat. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan yang kuat.

“Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri,” ujarnya di Jakarta dalam konferensi pers bertajuk Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026: Inovasi, Pertumbuhan dan Kolaborasi di Jakarta pada hari Kamis (4/6).

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (Asrim) Triyono Prijosoesilo menilai kondisi industri saat ini menunjukkan bahwa pemulihan belum sepenuhnya kembali ke level ideal. Meskipun industri makanan dan minuman mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,38 persen sepanjang 2025, angka tersebut masih berada di bawah capaian sebelum pandemi yang pernah mencapai kisaran 7 hingga 9 persen.

“ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen,” ungkap Triyono.

Ia menambahkan, sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.

Selain tantangan permintaan, industri juga menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi. Ketergantungan terhadap impor bahan baku dan material kemasan membuat pelaku usaha rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.

Tekanan tersebut diperkuat oleh data inflasi per April 2026 yang menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 2,42 persen.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif melalui berbagai kebijakan strategis.

Perwakilan Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian nasional sehingga perlu terus diperkuat.

“Sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19 persen terhadap PDB nasional pada Triwulan I-2026, dengan industri makanan-minuman sebagai subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh,” ujarnya.

Menurut Merrijantij, pemerintah akan terus mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman. Pemerintah juga berupaya memperkuat sinergi dengan pelaku usaha guna menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja.

Asrim menyambut positif komitmen pemerintah tersebut. Organisasi pelaku industri minuman kemasan itu berharap berbagai kebijakan yang diterapkan dapat berjalan secara adaptif dan tidak menambah beban usaha, sehingga investasi dan penyerapan tenaga kerja tetap terjaga.

Triyono menegaskan bahwa peluang pertumbuhan industri minuman kemasan masih terbuka lebar, namun memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.

“Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan. Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha,” katanya.

Ia menambahkan, ASRIM akan terus mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kebijakan industri, termasuk terkait cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, serta perlindungan tenaga kerja nasional.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.