Menperin Lepas 2.361 Lulusan SMK Serentak, Mayoritas Terserap di Industri dan Berwirausaha

Kamis, 16 Jul 2026, 18:32 WIB

BOGOR - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melepas 2.361 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Perindustrian tahun 2026 secara serentak di sembilan sekolah. Pelepasan berlangsung di Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (16/7).

Menperin menegaskan para lulusan SMK-SMAK dan SMTI bukan lagi siswa, melainkan tenaga industri yang memegang peran kunci di pabrik.

Ket. Foto: Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melepas 2.361 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Perindustrian tahun 2026 secara serentak di sembilan sekolah. Pelepasan dilakukan di Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (16/7) — Sumber: istimewa

"Kalian tidak menempuh tiga tahun pendidikan yang keras untuk mendengarkan basa-basi. Hari ini, di sembilan sekolah, secara serentak, 2.361 orang berhenti menjadi siswa dan mulai menjadi tenaga industri Indonesia," ujar Menperin Agus

Ia menekankan peran analis kimia dan teknisi industri sebagai penentu mutu dan keberlangsungan produksi. 

"Seorang analis adalah orang yang tanda tangannya menentukan apakah sebuah produk boleh keluar dari pabrik atau tidak. Seorang teknisi adalah orang yang tangannya menjaga agar mesin, proses, dan mutu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jangan pernah merasa kecil. Kalian bukan pelengkap. Kalian salah satu syaratnya," tegasnya.

Industri Pengolahan Tumbuh 5,04 Persen

Menperin memaparkan data untuk memberi kepastian arah kerja para lulusan. Berdasarkan BPS, pada Triwulan I 2026 industri pengolahan tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi dari 4,55 persen di periode yang sama tahun lalu.

Sektor ini menyumbang 19,07 persen terhadap PDB nasional senilai Rp1.179 triliun dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Pada Januari-Mei 2026, industri pengolahan juga menyumbang 82 persen dari total ekspor nasional dengan nilai hampir USD 95 miliar.

"Artinya sederhana: bidang yang baru saja memanggil kalian bukan bidang yang layu. Ia hidup, ia tumbuh, dan ia membutuhkan tangan-tangan baru. Tangan kalian," kata Agus.

Dukung Visi Indonesia 2045

Menperin Agus menyebut pelepasan lulusan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong industrialisasi dan hilirisasi di dalam negeri.

"Peta jalan kita jelas: dari penguatan hilirisasi hari ini, hingga cita-cita di tahun 2045 ketika kita ingin Indonesia bukan sekadar memasok dunia, melainkan menjadi pusat manufaktur dunia. Kalian akan berada di puncak usia produktif ketika tahun itu tiba. Indonesia Emas 2045 bukan proyek generasi saya. Itu proyek kalian," ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan kualitas SDM industri. Saat ini, sekitar 48 persen tenaga kerja industri masih berpendidikan SMP ke bawah, 45 persen SMA/SMK, dan hanya 7 persen perguruan tinggi.

"Ketika kalian masuk ke sebuah pabrik dengan keterampilan yang kalian asah selama empat tahun, kalian tidak sekadar mengisi satu lowongan. Kalian menaikkan dasar mutu industri Indonesia," ucapnya.

Tingkat Penyerapan Lulusan Capai Hampir 100 Persen

Menperin menyampaikan data serapan lulusan vokasi Kemenperin tahun 2025 sebagai bukti kebutuhan industri. 

Dari 5.472 lulusan, sebanyak 4.009 sudah bekerja, 156 berwirausaha, 704 melanjutkan studi, dan 603 lainnya dalam proses rekrutmen. 

"Industri tidak menunggu kalian melamar. Industri sudah menunggu kalian," kata Agus.

Ia menambahkan alumni sekolah vokasi Kemenperin kini telah bekerja di 21 negara dan di perusahaan kelas dunia seperti Bureau Veritas, Under Armour, Ecco, EDF, Hartalega, dan On.

Menperin kemudian secara resmi melepas lulusan SMK-SMAK dan SMTI Tahun 2026 di lingkungan Kementerian Perindustrian untuk mengabdi kepada industri dan bangsa Indonesia.

Mayoritas Sudah Bekerja, Kuliah, atau Wirausaha

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Doddy Rahadi melaporkan, kegiatan pelepasan ini menjadi momentum memperkuat kebersamaan, standarisasi mutu, dan identitas pendidikan vokasi industri Kemenperin.

"Penyelenggaraan ini merupakan momentum untuk memperkuat kebersamaan, standarisasi mutu, dan identitas pendidikan vokasi industri Kementerian Perindustrian," ujar Doddy saat menyampaikan laporan di Bogor.

Pendidikan Vokasi Disesuaikan Kebutuhan Industri

Doddy menjelaskan pendidikan di SMK Kemenperin diarahkan untuk mencetak tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja. Hal itu diwujudkan melalui penyelarasan kurikulum, praktik kerja industri sistem ganda, penguatan Teaching Factory dan kelas industri, serta sertifikasi kompetensi.

Siswa juga dibekali kemampuan bahasa asing, keterampilan digital, dan penguasaan teknologi. Konsentrasi keahlian yang dibuka meliputi Kimia Analisis, Kimia Industri, Teknik Otomasi Industri, dan Teknik Mekatronika sesuai kebutuhan industri di tiap wilayah.

"BPSDMI akan terus memperkuat pembinaan dan evaluasi untuk menjaga konsistensi mutu, meningkatkan tata kelola, serta memastikan setiap program memberikan hasil yang semakin optimal," tegasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.