Deru Mesin di Tengah Himpitan Harga: Kisah Perajin Tahu Melawan Lonjakan Biaya Produksi.
📅 Minggu, 31 Mei 2026, 11:40 WIB | Oleh: Yebdi TrismarPemerintah, melalui suara Iffah Mufidati dari Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kulon Progo, mencoba menjadi penyeimbang di tengah gejolak ini. Mereka hadir dengan business matching, sebuah upaya untuk membuka jalan bagi tahu-tahu Tuksono agar bisa melangkah lebih jauh.
Pemerintah memfasilitasi perajin tahu dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Produk tahu dibeli oleh SPPG, sehingga mereka diberdayakan, dan usaha tetap jalan. SPPG yang menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Kulon Progo berkomitmen dukung UMKM di lingkungan masing-masing.
Hal ini membawa angin segar dan harapan baru bagi pelaku UMKM untuk mendongkrak usaha dan menggerakkan usaha. Ini adalah business matching untuk menggerakkan UMKM di tengah badai ekonomi.
Pemkab Kulon Progo juga membantu mereka mempromosikan produk ke konsumen. Dinas membuka jaringan pemasaran secara daring. Pelaku UMKM, khususnya perajin tahu bisa memasarkan secara daring. Dinas juga memberikan pelatihan pemasaran secara daring, sehingga mereka mampu berdaya menghadapi pemasaran secara daring.
Sebaiknya Anda baca juga:
Senada dengan itu, Bupati Agung Setyawan kini mulai menangkap sinyal keresahan itu, berjanji untuk membawa jeritan hati para perajin ini ke meja kebijakan, mencari celah agar kedelai tak lagi menjadi beban yang melumpuhkan.
Namun, di luar kebijakan dan angka-angka, ada sebuah spirit yang jauh lebih megah. Ada jiwa bisnis yang tak sekadar mencari untung, melainkan tentang menjaga martabat.
Di Tuksono, di tengah kepulan uap air panas dan aroma khas tahu yang segar, para perajin terus memutar mesin mereka. Mereka adalah pejuang yang tidak mengenakan baju zirah, melainkan celemek yang basah oleh keringat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Matahari terus bersinar, harga terus menari-nari dalam ketidakpastian, namun selama tungku-tungku itu masih menyala, selama jemari-jemari mereka masih dengan teliti mencetak tahu, maka selama itu pula kehidupan di Tuksono akan terus berdenyut.
Mereka bukan sekadar perajin; mereka adalah pelukis kehidupan, yang dengan sabar menjaga agar piring-piring masyarakat tetap terisi, di tengah dunia yang tak selalu memberi ruang bagi mereka untuk bernapas lega.
Inilah kisah tentang ketahanan, tentang tahu yang diciptakan dengan ketulusan, dan tentang dapur yang menolak untuk padam meski dunia di luar sana menuntut biaya yang kian mahal untuk sekadar bertahan hidup.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!