Tradisi Lawa Pipi, Miniatur Ibadah Haji dari Negeri Hila Maluku
📅 Sabtu, 30 Mei 2026, 08:18 WIB | Oleh: Tim PenulisAMBON –Takbir menggema di udara pagi Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di tengah sorak-sorai warga, ratusan pemuda berlari kecil menyusuri jalan kampung sambil memikul seekor kambing jantan di pundak mereka. Di belakangnya, ribuan warga berjalan mengikuti prosesi dengan lantunan doa dan takbir yang bersahut-sahutan.
Pemandangan itu bukan sekadar arak-arakan hewan kurban. Masyarakat Hila menyebutnya Lawa Pipi atau "Bawa Lari Kambing", sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Adha. Bagi warga setempat, tradisi ini merupakan miniatur pelaksanaan ibadah haji yang diwariskan para leluhur sejak ratusan tahun silam.
Sejak pagi, negeri adat yang berada di pesisir Jazirah Leihitu itu telah dipadati warga dari berbagai daerah. Mereka datang untuk menyaksikan salah satu tradisi paling khas di Maluku, yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat.
Rangkaian Lawa Pipi diawali dengan tahlilan di beranda Rumah Tua Ollong. Tokoh agama, tokoh adat, kasisi masjid, serta masyarakat berkumpul memanjatkan doa bagi para leluhur sekaligus mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan.
Usai tahlilan, seekor kambing pilihan yang disebut "Kambing Temal" dikeluarkan. Kambing terbesar dan paling sehat itu memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi. Ia dimaknai sebagai simbol pengganti Nabi Ismail AS dalam kisah kurban.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak lama kemudian, para pemuda mengangkat Kambing Temal ke pundak mereka. Dengan langkah cepat menyerupai lari kecil, mereka mengarak kambing tersebut mengelilingi kampung. Prosesi ini melambangkan Sa’i, salah satu rukun haji yang dilakukan jamaah di Tanah Suci.
Sepanjang jalan, warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan. Anak-anak, orang dewasa, hingga para lansia memenuhi sisi jalan kampung. Suasana penuh kegembiraan bercampur khidmat menyelimuti prosesi yang berlangsung setiap tahun itu.
Setelah mengelilingi kampung, rombongan bergerak menuju Masjid Hasan Soleman Hila. Di halaman masjid tua tersebut, Kambing Temal kembali diarak mengelilingi bangunan masjid sebanyak tujuh kali putaran sebagai simbol thawaf mengelilingi Ka'bah.
Pada putaran terakhir, imam bersama penghulu masjid menyembelih Kambing Temal di lokasi yang telah disediakan di belakang masjid. Saat penyembelihan berlangsung, warga melemparkan uang logam dan uang kertas ke arah kambing. Ritual ini dimaknai sebagai simbol lempar jumrah sekaligus doa untuk keselamatan dan penolak bala.
Uang yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli rempah-rempah dan kebutuhan memasak daging kurban yang selanjutnya dibagikan kepada warga kurang mampu.
Salah satu pengurus Masjid Hasan Soleman Hila, Abubakar Tatisina, mengatakan seluruh rangkaian Lawa Pipi pada dasarnya merupakan representasi dari rukun-rukun haji yang dilakukan di Mekkah.
“Leluhur kita melihat setiap rukun haji yang dikerjakan di Mekkah, lalu dibuat dalam bentuk miniatur di tradisi Lawa Pipi ini,” katanya.
Menurut Abubakar, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Idul Adha, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi muda sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat.
“Lewat Lawa Pipi ini, generasi muda diajarkan mengenal rukun ibadah haji yang dilakukan di Tanah Suci,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!