Microsoft dan Alunjiva Perluas Literasi AI Inklusif untuk Disabilitas dan Pemuda
📅 Senin, 25 Mei 2026, 18:10 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong pentingnya penguatan ekosistem digital yang inklusif di Indonesia. Melalui program Equal, Microsoft bersama Alunjiva Indonesia memperluas akses literasi AI bagi perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas di berbagai daerah.
Program tersebut menjadi bagian dari inisiatif pengembangan talenta digital yang dijalankan Microsoft bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia melalui program elevAIte Indonesia yang diluncurkan pada 2024. Inisiatif itu ditargetkan membekali satu juta talenta Indonesia dengan keterampilan AI untuk menghadapi transformasi digital.
Dalam implementasinya, Microsoft dan Alunjiva Indonesia membangun kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas disabilitas, institusi pendidikan, pemerintah daerah, hingga fasilitator komunitas di berbagai wilayah.
Pendekatan inklusif diwujudkan melalui penyediaan materi pembelajaran yang lebih aksesibel, pelibatan fasilitator penyandang disabilitas, serta penguatan ruang belajar berbasis komunitas. Program ini juga mendorong terbentuknya jaringan kolaborasi jangka panjang antar komunitas dan mitra daerah guna memperkuat keberlanjutan ekosistem AI inklusif di Indonesia.
Sejak batch pertama hingga 30 Juni 2025, program Equal telah memberdayakan 211.377 learner di berbagai wilayah Indonesia. Sementara pada batch kedua hingga 30 April 2026, jumlah peserta yang dijangkau mencapai 112.058 orang, terdiri atas 66.574 penyandang disabilitas dan 45.484 perempuan serta pemuda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai penutup rangkaian program, Equal Convening Summit bertajuk “Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan AI yang Inklusif” digelar pada 25 Mei 2026 di Gedung Komisi Nasional Disabilitas, Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 350 peserta penyandang disabilitas dari wilayah Jabodetabek.
Sejumlah tokoh lintas sektor hadir dalam kegiatan itu, antara lain Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Viada Hafid, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Presiden Direktur Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir, Komisioner KND Jonna Aman Damanik, serta Pembina Setara Berdaya Group Ridha D. M. Wirakusumah.
Summit tersebut juga menghadirkan diskusi publik mengenai regulasi AI dan pentingnya inklusivitas dalam pengembangan teknologi AI di Indonesia. Diskusi dimoderatori Co-Founder Alunjiva Indonesia Fany Efrita dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital, akademisi, serta fasilitator penyandang disabilitas netra.
Sebaiknya Anda baca juga:
President Director Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir mengatakan AI bukan sekadar teknologi, tetapi juga penggerak produktivitas dan peluang ekonomi di Indonesia. Menurut dia, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot dapat menjangkau lebih banyak masyarakat secara inklusif.
“Microsoft percaya bahwa teknologi AI harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat secara inklusif. Melalui kolaborasi bersama berbagai mitra, salah satunya Alunjiva Indonesia, kami mendorong penguatan keterampilan AI dan pemanfaatan Microsoft Copilot agar perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dapat lebih siap menghadapi transformasi digital dan membuka peluang baru di masa depan,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (25/5).
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai penguasaan AI dapat menjadi jembatan penting untuk memperluas kesempatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Teknologi AI sejatinya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meluaskan ruang kesempatan.
“Penguasaan AI menjadi jembatan krusial: mempercepat langkah UMKM lokal agar naik kelas, sekaligus mendobrak keterbatasan bagi kawan-kawan penyandang disabilitas untuk mandiri dan berdaya,” tuturnya.
Sementara itu, Founder Alunjiva Indonesia Nicky Clara menegaskan pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem pembelajaran AI yang inklusif dan berkelanjutan. Menurut dia, literasi AI perlu dibangun dengan pendekatan yang mudah dipahami dan dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari agar teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Ke depan, program Equal akan terus dikembangkan melalui skema berkelanjutan mulai dari tahap pelatihan, local champion, changemaker, hingga sustainable ecosystem. Melalui pendekatan tersebut, para fasilitator diharapkan dapat berkembang menjadi penggerak komunitas dan memperluas dampak literasi AI di berbagai daerah Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!