Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Purbaya Laporkan Temuan Manipulasi Nilai Ekspor ke Presiden Prabowo

📅 Kamis, 21 Mei 2026, 15:43 WIB | Oleh:
Purbaya Laporkan Temuan Manipulasi Nilai Ekspor ke Presiden Prabowo Doc: antara foto
Ket. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa siap melaporkan temuan manipulasi nilai dokumen perdagangan ekspor-impor (trade misinvoicing) kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/5).

Purbaya menyebut pihaknya melakukan pengecekan terhadap tiga pengapalan pada 10 perusahaan secara acak. Perusahaan tersebut bergerak di sektor industri kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

"Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat," ujar Purbaya.

Meski tidak bisa menyebutkan nama 10 perusahaan tersebut, Purbaya memberikan contoh manipulasi faktur perdagangan yang dilakukan oleh salah satu perusahaan.

Misalnya, sebuah perusahaan mencatatkan harga ekspor sebesar 2,6 juta dollar AS, sedangkan harga yang dibayarkan oleh pengimpor di Amerika Serikat 4,2 juta dollar AS.

"Jadi, 57 persen lebih rendah. Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan lagi, di sini ekspor 1,43 juta dollar AS. Di sana (impor) 4 jutaan dollar AS. Berubah harganya 200 persen. Kita mau deteksi kapal per kapal," jelas Purbaya.

Pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN Khusus Ekspor untuk meningkatkan penerimaan negara.

Badan ekspor ini mengatur kebijakan tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) yang akan menguntungkan negara, karena dapat menekan praktik pencatatan nilai ekspor lebih rendah dari yang sebenarnya (under-invoicing) yang selama ini menyebabkan kebocoran penerimaan.

Pembentukan DSI sendiri berawal dari temuan pemerintah terkait dugaan praktik under-invoicing dan transfer pricing dalam ekspor komoditas SDA.

Data penelusuran Amenyebutkan, transfer "pricing" dalam ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) adalah praktik penentuan harga transaksi antara perusahaan-perusahaan yang masih satu grup atau memiliki hubungan afiliasi, terutama dalam penjualan komoditas ke luar negeri.

Contohnya: Perusahaan tambang batu bara di Indonesia menjual batu bara ke perusahaan "trader" (pedagang) di Singapura yang masih satu grup usaha dengan harga jual dibuat lebih murah dari harga pasar internasional. Kemudian, "trader" di luar negeri lalu menjual lagi dengan harga normal atau lebih tinggi kepada pembeli akhir.

Akibatnya: Keuntungan besar justru tercatat di luar negeri dan laba perusahaan di Indonesia terlihat kecil serta pajak dan royalti yang diterima Indonesia menjadi lebih rendah.

Dalam konteks ekspor komoditas SDA, perusahaan trader adalah perusahaan perantara perdagangan yang tugas utamanya membeli komoditas dari produsen lalu menjualnya kembali ke pembeli lain, biasanya ke pasar internasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Indonesia Turun Full Team Buat Kikis Kekuatan Vietnam

18 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...

Kapal Kandas karena Air Surut Dampak Kemarau Panjang

23 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...
Megapolitan
Bapenda Kota Tangerang Sebu...

Pengembangan Produksi Tebu Terus Digencarkan

27 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pengembangan Produksi Tebu ...

Kewajiban Warga Menunaikan Tugas Fiskal Kini Dipermudah

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kewajiban Warga Menunaikan ...
Nasional
Korem 132/Tadulako Bangun 5...
Luar Negeri
Trump Isyaratkan Negosiasi ...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.