Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Investor Menanti Sikap BI - 21 September 2026

📅 Senin, 21 Sep 2026, 07:45 WIB | Oleh:
Investor Menanti Sikap BI - 21 September 2026 Doc: istimewa

JAKARTA – Rupiah masih menghadapi tekanan pada awal pekan karena pasar mencermati respons Bank Indo­nesia (BI) terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.

Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung berhati-hati, sementara per­bedaan arah kebijakan moneter kedua bank sentral dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap dollar AS, sehingga ruang pelemahan rupiah tetap terbuka.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat pelaku pasar mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22-23 September 2026 yang di­perkirakan mempertahankan tingkat suku bunga acuan.

Kondisi tersebut berlangsung di tengah kenaikan yield US Treasury yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah.

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia be­lum memberikan dukungan signifikan terhadap pergerakan rupiah.

Karenanya, dia memproyeksikan kurs rupiah terha­dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (21/9), bergerak fluktuatif di kisaran 17.600-17.900 ru­piah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (18/9), bergerak melemah 5 poin atau 0,03 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.758 rupiah per dollar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pele­mahan tipis rupiah dipengaruhi risiko harga minyak yang masih di level tinggi.

“Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ucapnya di Jakarta, Jumat (18/9).

Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 1,3 persen menjadi 103,40 dollar AS per barel.

Harapan ditemukannya jalur alternatif untuk pengiriman minyak dari Asia Barat ke pasar global turut berkontribusi pada penurunan harga minyak, meski­pun masih ada kekhawatiran mengenai konflik antara Arab Saudi dan Ansarullah Yaman.

Selain itu, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz berkontribusi pada kembalinya harga minyak ke level tiga digit.

Menurut sumber pasar, beberapa pengiriman minyak yang dijadwalkan untuk dikirim ke Eropa pada bulan Sep­tember dibatalkan pada tanggal 15 September

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Banjir Rendam Dua Titik di Padang, Tim SAR Gabungan Evakuasi Puluhan Warga.

Banjir Rendam Dua Titik di Padang, Tim SAR Gabungan Evakuasi Puluhan Warga.

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.