WHO Menyatakan Darurat Kesehatan Internasional terkait Strain Langka Ebola

Minggu, 17 Mei 2026, 09:22 WIB

JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan keadaan darurat kesehatan internasional terkait strain langka Ebola yang telah menewaskan puluhan orang di Republik Demokratik Kongo pada hari Minggu (17/5). 

“Direktur Jenderal WHO, setelah berkonsultasi dengan Negara-negara Pihak di mana peristiwa tersebut diketahui sedang terjadi, dengan ini menetapkan bahwa penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC), tetapi tidak memenuhi kriteria keadaan darurat pandemi, sebagaimana didefinisikan dalam IHR,” demikian bunyi pernyataan resmi WHO di situs webnya, Minggu.

Ket. Foto: Petugas kesehatan menyemprotkan disinfektan pada rekannya setelah bekerja di pusat perawatan Ebola di Beni, Kongo timur pada 9 September 2018. — Sumber: AP

Direktur Jenderal WHO menyampaikan rasa terima kasihnya kepada kepemimpinan Republik Demokratik Kongo dan Uganda atas komitmen mereka untuk mengambil tindakan yang diperlukan dan tegas untuk mengendalikan peristiwa ini, serta atas keterusterangan mereka dalam menilai risiko yang ditimbulkan oleh peristiwa ini terhadap Negara-negara Pihak lainnya, sehingga memungkinkan komunitas global untuk mengambil tindakan kesiapan yang diperlukan.

Dalam keputusannya, Direktur Jenderal WHO telah mempertimbangkan, antara lain , informasi yang diberikan oleh Republik Demokratik Kongo dan Uganda –  prinsip-prinsip ilmiah serta bukti ilmiah yang tersedia dan informasi relevan lainnya; dan menilai risiko terhadap kesehatan manusia, risiko penyebaran penyakit secara internasional, dan risiko gangguan terhadap lalu lintas internasional.

Menteri Kesehatan Republik Rakyat Kongo pada Sabtu (16/5) memperingatkan wabah Ebola baru di negaranya yang telah menyebabkan banyak orang meniinggal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi dan belum ada vaksin maupun pengobatan khusus.   

"Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus," kata Samuel-Roger Kamba dalam konferensi pers di Kinshasa. "Strain ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 50 persen," kata Kamba.

Sebelumnya pada hari Sabtu, pejabat kementerian mengatakan jumlah korban tewas telah mencapai 80 orang, bertambah dari sebelumnya 65 orang yang dilaporkan pada hari sebelumnya.

Strain virus ini juga telah merenggut satu nyawa di negara tetangga, Uganda, kata para pejabat pada hari Sabtu, yaitu seorang warga negara Republik Rakyat Kongo.

Hal itu berkorelasi dengan pengumuman pada Jumat malam oleh Kementerian Kesehatan Uganda, yang mengatakan seorang pria berusia 59 tahun dari Republik Demokratik Kongo meninggal di Kampala setelah dirawat di rumah sakit awal pekan ini. Jenazahnya dipulangkan pada hari yang sama. 

Hasil tes menunjukkan korban di Uganda terinfeksi strain Bundibugyo, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007.

Ebola, yang diyakini berasal dari kelelawar, adalah penyakit virus mematikan yang menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh. Penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan hebat dan kegagalan organ.

Menurut WHO, wabah selama setengah abad terakhir telah menyebabkan tingkat kematian di antara mereka yang terdampak berkisar antara 25 persen hingga setinggi 90 persen.

Virus ini menyebar dari orang ke orang melalui cairan tubuh atau paparan darah orang yang terinfeksi, yang menjadi menular hanya setelah menunjukkan gejala. Masa inkubasi dapat berlangsung hingga 21 hari.

"Mengingat ketidakpastian dan tingkat keparahan penyakit ini, ada kekhawatiran tentang skala penularan di komunitas yang terdampak," kata WHO pada hari Jumat saat bersiap menerbangkan sekitar lima ton material termasuk peralatan pencegahan infeksi dari Kinshasa.

Pengangkutan peralatan medis dalam skala besar merupakan tantangan di negara dengan lebih dari 100 juta penduduk, yang empat kali lebih besar dari Prancis, dan memiliki infrastruktur komunikasi yang buruk.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.