- Home
-
- Luar Negeri
-
- Singapura dan Hong Kong Pe...
Singapura dan Hong Kong Perkuat Ambisi Jadi Pusat Perdagangan Emas
Rabu, 19 Agu 2026, 00:35 WIBPasar Komoditas
SINGAPURA â Singapura dan Hong Kong tengah mempercepat berbagai kebijakan untuk memperkuat posisi sebagai pusat perdagangan emas kelas dunia.
Langkah itu membuka babak baru dalam persaingan kedua pusat keuangan itu, sekaligus merespons meningkatnya permintaan emas di pasar Asia.
Sejak awal tahun, Singapura dan Hong Kong telah meluncurkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat ekosistem perdagangan emas masing- masing.
Pengamat pasar menilai, meskipun terdapat persaingan dan irisan kepentingan, kedua pusat perdagangan tersebut masih memiliki ruang untuk berkembang bersama karena besarnya pasar Asia dan permintaan emas yang terus meningkat.
Dilansir dari ThinkChina pada Senin (18/8), Singapura mulai memperkuat sektor emas pada Maret.
Menteri Pembangunan Nasional sekaligus Wakil Ketua Monetary Authority of Singapore (MAS) Chee Hong Tat mengumumkan sejumlah fokus pengembangan, antara lain produk pasar modal berbasis emas, standar penyimpanan dan logistik yang kuat serta sesuai standar internasional, dan sistem kliring untuk mendukung penyelesaian transaksi over-the-counter (OTC) secara aman dan efisien.
MAS juga mempertimbangkan penyediaan layanan penyimpanan emas bagi bank sentral dan lembaga negara asing.
Sementara itu, Hong Kong pada Juli mulai menguji sistem kliring dan penyelesaian transaksi emas terpusat yang memudahkan penyimpanan, penarikan, dan perdagangan emas fisik.
Hong Kong juga meluncurkan tahap pertama layanan Delivery Connect bersama Shanghai Gold Exchange, sekaligus memperluas kapasitas penyimpanan dan pemurnian emas, mendiversifikasi produk investasi emas, serta menjajaki insentif perpajakan.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Bank Sentral Tiongkok secara bertahap memindahkan sebagian emas yang sebelumnya disimpan di London ke Hong Kong.
Langkah itu diperkirakan semakin mendukung ambisi Hong Kong sebagai pusat perdagangan emas.
CEO Singapore Bullion Market Association (SBMA) Albert Cheng mengatakan keunggulan utama Hong Kong terletak pada kedekatannya dengan Tiongkok daratan.
Deputy CEO platform perdagangan logam mulia fisik BullionStar Pete Walden mengatakan Tiongkok merupakan salah satu konsumen dan produsen emas terbesar di dunia dengan permintaan yang besar terhadap logam mulia tersebut.
âTiongkok daratan merupakan salah satu konsumen dan produsen emas terbesar di dunia, dengan permintaan yang besar terhadap logam mulia. Karena itu, Hong Kong berada pada posisi yang lebih baik untuk menangani volume perdagangan dan penyimpanan emas yang berasal dari Tiongkok daratan,â ujar Walden.
Hong Kong juga merupakan pusat renminbi (RMB) terbesar di luar Tiongkok daratan.
Seiring internasionalisasi RMB, semakin banyak transaksi perdagangan, penyelesaian, dan investasi emas diperkirakan menggunakan mata uang tersebut sehingga berpotensi menguntungkan Hong Kong.
Berbeda dengan Hong Kong, Singapura tidak memiliki pasar domestik yang besar.
Namun, Walden menilai Singapura dapat memanfaatkan reputasinya sebagai negara yang tepercaya dan netral untuk melayani kebutuhan investasi serta penyimpanan emas dari Asia, Timur Tengah, dan kawasan lainnya.
Stabilitas politik, kebijakan luar negeri yang netral, konsistensi kebijakan, serta kepastian hukum menjadi sejumlah keunggulan Singapura.
Infrastruktur penyimpanan dan logistiknya juga dinilai berkelas dunia.
Sejak 2012, emas dan perak batangan untuk investasi di Singapura dibebaskan dari pajak barang dan jasa, sehingga semakin meningkatkan daya tarik negara tersebut sebagai pusat perdagangan dan penyimpanan logam mulia.
Tantangan Singapura
Cheng menilai tantangan utama Singapura adalah membangun volume transaksi dan aktivitas market making yang cukup besar, sekaligus meningkatkan pengaruhnya terhadap pembentukan harga emas global.
Saat ini, kekuatan penentuan harga emas masih terkonsentrasi di London dan New York.
Sebagian besar perdagangan emas spot berlangsung secara OTC di London sehingga kota tersebut memiliki peran penting dalam menentukan harga emas spot.
Sementara itu, New York lebih berfokus pada perdagangan kontrak berjangka dan opsi emas yang digunakan untuk lindung nilai maupun spekulasi.
Kepala Asia Pasifik di luar Tiongkok sekaligus Kepala Bank Sentral Global World Gold Council Shaokai Fan mengatakan Singapura dan Hong Kong memang memiliki persaingan dan irisan dalam industri emas.
Namun, besarnya pasar Asia membuat keduanya tetap berpeluang berkembang bersama.
âAmbil Eropa sebagai contoh. Meskipun London dan Zurich secara geografis berdekatan, permintaan dan volume perdagangan emas sangat besar, sementara keduanya memiliki posisi pasar yang berbeda. Keduanya berhasil menjadi pusat perdagangan emas. Saya yakin dinamika serupa dapat muncul antara Singapura dan Hong Kong,â kata Fan.
Meningkatnya minat investasi emas turut mendorong tiga bank besar Singapura memperluas produk dan layanan terkait emas.
DBS Bank mulai menawarkan layanan investasi dan perdagangan emas fisik yang ditokenisasi pada paruh kedua tahun ini.
Investor dapat memiliki token digital yang didukung emas fisik dan disimpan di brankas khusus yang dikelola DBS.
Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) pada Juni juga memasuki bisnis perdagangan dan penyimpanan emas fisik untuk nasabah institusi serta nasabah dengan kekayaan tinggi dan sangat tinggi.
Sementara itu, United Overseas Bank (UOB) telah menjalankan bisnis emas fisik selama puluhan tahun dan menjadi salah satu bank di Singapura yang menawarkan pembelian serta penjualan emas batangan dan koin kepada nasabah ritel.
Kepala Group Global Markets UOB Kelvin Ng mengatakan bisnis emas fisik bank tersebut mencatat kinerja kuat pada tahun lalu.
Volume perdagangan meningkat sekitar 59 persen secara tahunan, sedangkan transaksi rekening tabungan emas tumbuh 48 persen.
âSemua tanda ini menunjukkan bahwa selama periode volatilitas pasar, investor tetap memandang emas sebagai instrumen penting untuk menjaga kekayaan dalam jangka panjang dan mendiversifikasi portofolio investasi mereka,â kata Ng.
Kepala Global Markets OCBC Kenneth Lai mengatakan minat terhadap layanan emas fisik yang diluncurkan pada Juni juga cukup menggembirakan, baik dari nasabah institusi maupun nasabah perbankan Singapura.
Sementara itu, Kepala Investment Products & Advisory DBS James Tan mengatakan arus investasi ke emas meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.
Ia memperkirakan permintaan emas akan terus tumbuh secara stabil dalam lima tahun mendatang.
- Singapura
- Hong Kong
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pemprov Papua Pegunungan Dorong Pendidikan Karakter sejak Dini bagi Generasi Muda
-
STB dan TransNusa Tawarkan Promo Penerbangan dan Fly-Cruise untuk Wisatawan Indonesia ke Singapura
-
Lanud Haluoleo Buka Wisata Paralayang di Puncak Indah Kapuh Tiga Kolaka, Dongkrak Sport Tourism.
-
Polres Bekasi Gelar Operasi Kejahatan Jalanan
-
Tayang September 2027, Film Prekuel "The Conjuring" Ungkap Masa Awal Ed-Lorraine Jadi Pemburu Hantu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.