Xi: Warisan Jiang Zemin jadi Arah Perjalanan Baru Tiongkok yang Berkesinambungan

Rabu, 19 Agu 2026, 00:57 WIB

Kebijakan Pembangunan

BEIJING - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, baru-baru ini mengatakan telah menempatkan warisan mantan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) Jiang Zemin sebagai bagian dari kesinambungan kebijakan Tiongkok dalam menghadapi tantangan saat ini.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Seperti dikutip dari Think China, Xi menyampaikan hal itu dalam acara peringatan 100 tahun kelahiran Jiang Zemin di Balai Besar Rakyat, Beijing, Senin (17/8).

Sejumlah pejabat dan mantan pemimpin PKT hadir dalam acara tersebut, termasuk mantan Perdana Menteri Wen Jiabao dan mantan Wakil Presiden Zeng Qinghong.

Dua putra Jiang, Jiang Mianheng dan Jiang Miankang, serta anggota keluarga lainnya juga hadir.

Mantan Sekretaris Jenderal PKT Hu Jintao tidak terlihat dalam acara tersebut.

Dalam pidatonya, Xi menyoroti peran Jiang dalam mempertahankan arah reformasi dan keterbukaan setelah memimpin PKT 1989.

Xi juga mengaitkan kebijakan era Jiang dengan agenda pemerintahan saat ini yang disebut sebagai “perjalanan baru”.

Xi mengutip pandangan Jiang mengenai pentingnya mempertahankan arah kebijakan reformasi.

Jiang disebut pernah menegaskan dua hal yang sangat jelas, pertama, Tiongkok harus tetap teguh dan tak tergoyahkan dan kedua, harus melaksanakannya secara komprehensif dan konsisten.” Xi juga mengutip pandangan Jiang mengenai pentingnya penguatan partai dalam proses pembangunan.

Menurut Jiang, “untuk memerintah negara, seseorang harus terlebih dahulu memerintah partai, dan partai harus diperintah dengan ketat.” Menurut Xi, prinsip tersebut tetap relevan dalam pemerintahan saat ini.

Ia mengatakan Tiongkok harus mempertahankan kepemimpinan keseluruhan PKT dan kepemimpinan terpusat serta terpadu Komite Sentral PKT, sekaligus memperkuat tata kelola internal partai.

Keterbukaan Ekonomi

Xi tak segan memuji kebijakan ekonomi pada era Jiang.

Menurut dia, periode tersebut menetapkan tujuan reformasi dan kerangka dasar ekonomi pasar sosialis, sekaligus mengembangkan berbagai bentuk kepemilikan dengan kepemilikan publik sebagai fondasi.

Jiang juga disebut mendorong masuknya investasi asing, ekspansi perusahaan Tiongkok ke luar negeri, serta penggunaan keterbukaan ekonomi untuk mendorong reformasi dan pembangunan.

Salah satu pencapaian yang kembali disoroti adalah bergabungnya Tiongkok dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Xi mengatakan pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses reformasi dan keterbukaan yang perlu terus dilanjutkan.

Dalam perjalanan baru Tiongkok, Xi menyerukan agar reformasi dan keterbukaan “lebih diperdalam di semua bidang”.

Xi juga menyinggung keputusan Jiang untuk meninggalkan posisi kepemimpinan tertinggi secara sukarela.

Saat persiapan Kongres Nasional PKT ke-16 berlangsung, Jiang disebut mengusulkan agar dirinya tidak lagi memegang posisi kepemimpinan pusat.

Pada 2004, ia juga mengundurkan diri sebagai Ketua Komisi Militer Pusat.

Setelah pensiun, Jiang disebut tetap mendukung pekerjaan Komite Sentral PKT serta upaya meningkatkan disiplin internal dan pemberantasan korupsi.

Xi juga mengangkat pendekatan Jiang yang menempatkan pembangunan ekonomi sebagai prioritas.

Ia menyebut Jiang memandang dua dekade pertama abad ke-21 sebagai periode penting bagi Tiongkok untuk memanfaatkan peluang strategis dan mempercepat pembangunan.

Pengalaman Jiang dalam menghadapi berbagai krisis juga menjadi bagian dari pidato Xi.

Ia menyebut keberhasilan pemerintah saat itu menghadapi dampak krisis keuangan Asia serta menangani banjir besar pada 1998.

Xi kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan kondisi internasional saat ini.

Ia menyerukan percepatan pembangunan pola ekonomi baru, peningkatan kualitas pembangunan, serta penguatan kesiapan menghadapi berbagai risiko.

Tiongkok, kata Xi, harus meningkatkan kesadaran terhadap potensi bahaya, mempersiapkan skenario terburuk, dan mengoordinasikan pembangunan dengan keamanan.

Xi menggambarkan tantangan tersebut sebagai “angin kencang dan laut yang bergelombang” serta “perairan yang berbahaya dan berbadai”.

Tzeng Wei-feng, peneliti sekaligus Koordinator Kerja Sama Internasional di Universitas Nasional Chengchi, mengatakan kepada Lianhe Zaobao bahwa penggunaan istilah tersebut menunjukkan perubahan cara Beijing melihat lingkungan internasional.

Menurut Tzeng, penilaian Beijing dalam beberapa tahun terakhir bergeser dari pandangan mengenai “periode peluang strategis” menuju penekanan yang lebih besar terhadap ketidakpastian dan ketidakstabilan.

“Inilah mengapa Xi sekali lagi berbicara tentang ‘angin kencang dan laut yang bergelombang’ dan bahkan ‘perairan yang berbahaya dan berbadai’,” kata Tzeng.

“Tujuannya sebenarnya adalah untuk memperkuat persiapan menghadapi skenario terburuk, dan perlunya mengoordinasikan pembangunan dan keamanan.”

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.