Perseteruan di Federasi Sepak Bola Asia Makin Panas, Presiden AFC Kecam Qatar

Rabu, 19 Agu 2026, 00:15 WIB

KUALA LUMPUR — Perselisihan di tubuh sepak bola Asia semakin memanas setelah Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, membalas keras keberatan Asosiasi Sepak Bola Qatar (QFA) terkait sikap AFC terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino.

Sheikh Salman pada hasil Selasa (18/8) menolak tegas tudingan QFA bahwa dirinya telah melampaui kewenangan dengan bergabung bersama UEFA dan CONCACAF dalam mengecam kepemimpinan Infantino. Dalam surat balasan yang ditinjau Reuters, administrator asal Bahrain itu bahkan menilai QFA terlalu mengedepankan persoalan prosedural ketimbang kepentingan sepak bola Asia dan dunia.

Ket. Foto: Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa. — Sumber: AFC

Perselisihan tersebut muncul setelah UEFA, AFC, dan CONCACAF menerbitkan surat terbuka yang mengkritik tindakan Infantino dan mendesak presiden FIFA itu mengundurkan diri. Sorotan tersebut berkaitan dengan proposal Infantino yang gagal untuk menghadirkan investasi swasta ke dalam berbagai kegiatan FIFA, termasuk Piala Dunia.

Infantino sendiri tengah menghadapi tekanan menjelang pemilihan kembali presiden FIFA tahun depan.

Pekan lalu, Presiden QFA Hamad bin Khalifa Al-Thani mengirim surat kepada AFC. Ia menyatakan bahwa dirinya maupun federasi Qatar tidak pernah diajak berkonsultasi sebelum tiga konfederasi tersebut menerbitkan surat terbuka atas nama mereka.

Sheikh Salman membantah keras tudingan tersebut.

“Saya dengan tegas menyangkal bahwa saya telah melampaui mandat,” kata Sheikh Salman dalam suratnya.

Ia menegaskan bahwa sebagai Presiden AFC, dirinya memiliki kewenangan sekaligus tanggung jawab untuk mengambil keputusan ketika kepentingan mendasar sepak bola Asia berada dalam pertaruhan.

“Saya memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk bertindak tegas guna melindungi posisi AFC dan sepak bola Asia ketika muncul persoalan yang sangat mendasar bagi sepak bola Asia,” ujarnya.

Menurut Sheikh Salman, kewenangan tersebut sejalan dengan mandat yang tercantum dalam statuta AFC. Ia menilai presiden konfederasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepentingan dan nilai-nilai olahraga.

“Dalam keadaan seperti yang melatarbelakangi pernyataan bersama tersebut, AFC akan bertentangan dengan tanggung jawabnya sendiri jika memilih diam,” katanya.

Sheikh Salman juga mempertanyakan sikap QFA yang baru sekarang mempermasalahkan prosedur pengambilan keputusan AFC.

Dalam surat sebelumnya, Al-Thani meminta AFC menjelaskan dasar kewenangan konfederasi berbicara atas nama 47 asosiasi anggota.

Sheikh Salman kemudian mengingatkan bahwa dirinya dan para presiden AFC sebelumnya sudah beberapa kali mengeluarkan pernyataan publik mengenai isu penting bagi sepak bola Asia.

Salah satu contohnya adalah ketika AFC memberikan dukungan kepada Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, ketika negara tersebut menghadapi tekanan internasional.

“Saya tidak ingat QFA sebelumnya mengajukan keberatan prosedural ketika protokol yang berlaku melayani kepentingan mereka secara langsung,” ujar Sheikh Salman.

Karena itu, ia mengaku sulit memahami kritik QFA yang dinilainya “mendadak dan selektif”. Menurutnya, Qatar sebelumnya menerima praktik serupa dalam situasi lain dan bahkan memperoleh manfaat dari mekanisme tersebut.

QFA belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar melalui surat elektronik.

Qatar Berada di Barisan Pendukung Infantino

Perselisihan ini semakin rumit karena Qatar justru termasuk negara Arab yang secara terbuka mendukung Infantino di tengah krisis kepemimpinan FIFA.

Bulan ini, enam asosiasi sepak bola Arab menyatakan dukungan kepada Infantino. Selain Qatar, negara-negara tersebut adalah Mesir, Lebanon, Maroko, Sudan, dan Mauritania. Mereka memuji kepemimpinan Infantino dan kontribusinya terhadap pengembangan sepak bola dunia.

Maroko, yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, tidak berada di bawah AFC melainkan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), yang juga masih mendukung Infantino.

Sheikh Salman menilai sikap dan tindakan QFA dalam beberapa pekan terakhir justru berpotensi mengganggu persatuan sepak bola Asia.

Ia bahkan menuding Qatar telah mengutamakan persoalan teknis prosedural daripada kepentingan yang lebih besar.

“Pengakuan Anda bahwa perhatian utama Anda semata-mata tertuju pada proses menegaskan bahwa Anda telah memprioritaskan persoalan prosedural di atas upaya penting untuk membela kepentingan sepak bola Asia dan dunia,” kata Sheikh Salman.

Perseteruan AFC dan Qatar menambah warna baru dalam konflik politik sepak bola dunia yang tengah berlangsung.

UEFA, AFC, dan CONCACAF sebelumnya secara bersama-sama menekan Infantino setelah proposal investasi swasta FIFA memicu kontroversi. Rencana tersebut mencakup penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta dan kemudian dibatalkan setelah mendapat penolakan dari berbagai pihak.

Di sisi lain, Infantino masih mendapatkan dukungan dari CAF, konfederasi Amerika Selatan, serta sejumlah asosiasi sepak bola Arab.

Pemilihan presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 di Maroko. Dengan persaingan politik yang semakin terbuka, perpecahan di tubuh AFC berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam pertarungan memperebutkan dukungan anggota FIFA.

Sheikh Salman terpilih sebagai Presiden AFC pada 2013 setelah federasi sepak bola Asia mengalami gejolak menyusul pengunduran diri Mohammed bin Hammam, administrator asal Qatar. Bin Hammam kemudian dijatuhi larangan seumur hidup dari aktivitas sepak bola pada 2012 setelah dinyatakan melanggar tujuh pasal Kode Etik FIFA.

Kini, lebih dari satu dekade setelah pergantian kepemimpinan tersebut, hubungan antara kekuatan sepak bola Bahrain dan Qatar kembali berada di bawah sorotan, kali ini dalam pertarungan yang jauh lebih besar mengenai masa depan tata kelola sepak bola dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

Berita Terbaru

Xi: Warisan Jiang Zemin jadi Arah Perjalanan Baru Tiongkok yang Berkesinambungan

Flores Belum Aman! Ribuan Gempa Susulan Masih Beruntun Guncang NTT Usai Gempa M 7,7!

Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri

DPR Dorong Relokasi Anggaran untuk Tangani Dampak Gempa NTT

Trump Ancam Bombardir Oman jika Ganggu Kesepakatan AS-Iran

Singapura dan Hong Kong Perkuat Ambisi Jadi Pusat Perdagangan Emas

Infantino Kehilangan Orang Kepercayaan Saat Tekanan di FIFA Meningkat

Serena dan Venus Williams Kembali Bertanding di Nomor Ganda, Kalah Dramatis di Cincinnati Open

Tiga Gunung Api Erupsi Malam Ini, Masyarakat Diminta Waspada

Perseteruan di Federasi Sepak Bola Asia Makin Panas, Presiden AFC Kecam Qatar

Unggulan Tumbang, Peluang Jonatan dan Alwi di Kejuaraan Dunia BWF 2026 Makin Terbuka

Liga Inggris Akan Publikasikan Evaluasi Independen Keputusan Wasit dan VAR Setiap Pekan

Mendekati Horor, The X-Files: I Want to Believe Dirilis Ulang dalam Director’s Cut R-Rated, Lebih Gelap dari Versi 2008

Desa-desa Hantu di Irak: ISIS Mengusir Warga, Kini Musuh Baru Mencegah Penduduk Pulang Kembali

'The Last Photograph', Thriller Gelap Terbaru Zack Snyder Tentang Fotografer Perang yang Menyelamatkan Anak-anak dari Bahaya Kartel

Pos PGA Berharap Warga Mewaspadai Awan Panas Guguran Karangetang

Gempa NTT, XLSMART Percepat Pemulihan Jaringan, Kurang dari 5 BTS Masih Terdampak.

Memacu Pengentasan Kawasan Kumuh di 17 Kabupaten dan Kota di  Sumsel

Pastikan Stok BBM di NTT Aman, Komut Pertamina Tinjau Langsung Daerah Gempa

Meningkatkan Kewaspadaan Terhadap Lonjakan Penyakit Diare

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.