Infantino Kehilangan Orang Kepercayaan Saat Tekanan di FIFA Meningkat
Rabu, 19 Agu 2026, 00:30 WIBPARIS â Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menghadapi tekanan setelah Kevin Lamour meninggalkan jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO) FIFA. Kepergian pejabat asal Prancis itu terjadi tidak lama setelah ia secara terbuka mengkritik rencana kontroversial Infantino untuk mendatangkan investasi swasta ke berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
Lamour baru menduduki posisi tersebut kurang dari dua tahun. Namun, kedudukannya menjadi tidak berkelanjutan setelah ia memilih berbeda sikap dengan sejumlah petinggi FIFA dan mengeluarkan pernyataan keras terhadap proposal investasi yang kemudian dibatalkan.
Lamour bahkan menolak menyetujui kesepakatan tersebut. Menurut laporan The New York Times, lima direktur FIFA telah mendapatkan penjelasan mengenai rencana itu menjelang final Piala Dunia bulan lalu.
Lamour menggambarkan proposal tersebut sebagai âproyek satu orangâ, sebuah sindiran tajam yang secara langsung mengarah kepada Infantino.
Kepergian Lamour menjadi pukulan baru bagi Infantino yang berusia 56 tahun. Setelah pernyataan kontroversial tersebut muncul, Lamour juga tidak terlihat ketika sejumlah direktur senior FIFA menghadiri pertemuan darurat di Maroko dua pekan lalu dan menyatakan dukungan penuh terhadap Infantino.
Lamour bukan satu-satunya pejabat senior yang meninggalkan kubu Infantino. Penasihat khusus FIFA, Carlos Cordeiro, sebelumnya juga mengundurkan diri. Cordeiro, mantan bankir investasi yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, turut mengecam proposal investasi tersebut.
âIni kesepakatan yang buruk bagi asosiasi anggota FIFA, kesepakatan yang buruk bagi sepak bola, dan kesepakatan yang buruk bagi masa depan olahraga ini dalam jangka panjang,â tulis Cordeiro.
Dua pejabat FIFA lainnya juga menyambut pembatalan proposal tersebut. Rencana investasi itu diperkenalkan pada Selasa, 28 Juli, tetapi hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya dihentikan pada Sabtu.
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom berusaha meredam gejolak internal melalui surat elektronik kepada staf.
âIndividu, masa-masa yang tidak stabil, dan episode yang tidak menguntungkan akan datang dan pergi. Institusi, misi, dan tanggung jawabnya terhadap sepak bola dunia akan terus berlanjut,â tulis Grafstrom.
Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, juga menyebut pembatalan proposal tersebut sebagai langkah yang âmutlak diperlukanâ.
Menariknya, Wenger dan Grafstrom sama-sama mengaku tidak mengetahui rencana investasi swasta tersebut. Namun, nama keduanya tercantum dalam daftar pejabat yang diminta untuk tidak memusnahkan âmateri yang relevanâ terkait proposal tersebut dalam surat dari pengacara UEFA.
Krisis tersebut kini berkembang menjadi persoalan yang lebih besar karena mulai memecah persatuan sejumlah konfederasi sepak bola dunia.
UEFA, AFC, dan CONCACAF pekan lalu mengeluarkan pernyataan bersama yang secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan Infantino. UEFA bahkan menggambarkan rencana investasi tersebut sebagai kesepakatan yang âburuk, dibuat di belakang layar, dan tidak transparanâ.
Ketiga konfederasi menilai kepemimpinan sepak bola tidak boleh menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan individu.
âKepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan. Kepemimpinan bukan tentang memegang atau menuntut kekuasaan untuk dipertahankan,â demikian pernyataan bersama tersebut.
Victor Montagliani, Presiden CONCACAF, kini disebut sebagai kandidat paling potensial untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA di Rabat, Maroko, pada Maret tahun depan.
Dalam pernyataan tersebut, para pemimpin konfederasi juga menegaskan bahwa ketika seorang individu menempatkan dirinya di atas kepentingan kolektif yang memberikan mandat kepadanya, maka tanggung jawab kepemimpinan telah ditinggalkan.
Meski Eropa terlihat relatif solid dalam menentang Infantino, situasi berbeda terjadi di wilayah lain.
Meksiko, salah satu tuan rumah Piala Dunia tahun ini, memilih tidak mengikuti sikap keras CONCACAF. Sementara di Asia, Qatar secara terbuka mempertanyakan keputusan AFC ikut menandatangani pernyataan bersama tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan seluruh anggotanya.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Qatar, Hamad bin Khalifa Al-Thani, meminta penjelasan mengapa konsultasi tidak dilakukan dan atas dasar apa AFC berbicara mewakili 47 asosiasi anggotanya, termasuk Qatar.
Qatar bukan satu-satunya anggota AFC yang masih mendukung Infantino. Kuwait, Lebanon, Sri Lanka, dan Filipina juga secara terbuka memberikan dukungan kepada presiden FIFA tersebut.
Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa kemudian membalas kritik Qatar. Administrator asal Bahrain itu menegaskan dirinya tidak melampaui kewenangan dengan ikut menandatangani pernyataan bersama.
âSaya dengan tegas menolak anggapan bahwa partisipasi saya dalam pernyataan bersama tersebut telah melampaui kewenangan saya atau bahwa AFC melakukan kesalahan dengan ikut serta di dalamnya,â kata Sheikh Salman dalam surat yang dilihat AFP.
Sheikh Salman sendiri pernah menjadi rival Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2016. Saat itu, administrator Bahrain tersebut finis sebagai runner-up.
Di tengah tekanan tersebut, Infantino masih memiliki sejumlah pendukung kuat.
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) tetap berada di belakang Infantino. Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) juga belum ikut menyerukan pengunduran dirinya.
Namun, dari kawasan Oseania muncul pembangkangan. Selandia Baru memilih menarik dukungannya terhadap upaya Infantino mempertahankan jabatan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertarungan menuju pemilihan Presiden FIFA tahun depan berpotensi berlangsung sengit.
Proposal investasi swasta yang hanya bertahan beberapa hari kini telah berubah menjadi krisis politik yang lebih luas. Bukan hanya masa depan sebuah proyek bisnis yang dipertaruhkan, tetapi juga keseimbangan kekuasaan antara FIFA dan enam konfederasi sepak bola dunia.
Bagi Infantino, kepergian Lamour dan sejumlah pejabat senior menjadi sinyal bahwa persoalan internal FIFA belum selesai. Sebaliknya, bagi para penentangnya, setiap pengunduran diri dan perbedaan sikap menjadi bukti bahwa kepemimpinan FIFA sedang menghadapi ujian terbesar sejak Infantino pertama kali terpilih pada 2016.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
KPK Sita Uang Ratusan Juta Rupiah pada OTT Bupati Langkat
-
jembatan Kayu Ratusan Meter Dibangun Pemkot Banjarmasin
-
Polri Bekukan Aktivitas di Kafe dan Money Changer Usai Penggeledahan Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU.
-
Kemendukbangga: Tren Usia Menikah Semakin Matang
-
Pencarian Nelayan Hilang di Perairan Pasean Pamekasan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.