Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Candi Ijo, Jejak Mataram Kuno dengan Panorama Memikat

📅 Jumat, 08 Mei 2026, 06:16 WIB | Oleh:

Secara estetika bangunan candi Siwa memiliki perbedaan mencolok terlihat pada bagian atap yang menggunakan puncak berbentuk Ratna atau Amalaka yang meruncing ke atas. Kemegahan struktur ini dapat disaksikan secara nyata pada Candi Prambanan yang menempatkan Candi Siwa sebagai bangunan tertinggi, serta pada situs-situs bersejarah lainnya seperti gugusan candi di Dataran Tinggi Dieng dan Candi Sambisari yang hingga kini masih menunjukkan keutuhan struktur Lingga-Yoni di dalamnya.

Pemilihan lokasi Candi Ijo yang berada di atas bukit bukan tanpa alasan. Dalam kosmologi Hindu-Jawa kuno, tempat tinggi dianggap lebih dekat dengan alam para dewa. Gunung dan bukit dipandang sebagai ruang suci, tempat bertemunya dunia manusia dengan dunia spiritual.

Karena itulah, membangun candi di atas perbukitan bukan hanya keputusan arsitektural, melainkan juga manifestasi keyakinan religius masyarakat kala itu. Secara arsitektural, Candi Ijo memperlihatkan kecerdasan perancangnya dalam menyesuaikan bangunan dengan kontur alam.

Kompleks ini dibangun berteras-teras mengikuti lereng bukit, terdiri atas sebelas teras yang membentang dari barat ke timur. Tata ruang bertingkat ini bukan sekadar solusi teknis menghadapi medan miring, tetapi juga memiliki makna simbolis.

Dalam tradisi Hindu, perjalanan menuju titik tertinggi melambangkan proses spiritual manusia menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Yang Ilahi. Di teras paling atas berdiri candi induk yang menjadi pusat kompleks. Bangunan utama ini menghadap ke barat, sebuah orientasi yang cukup khas untuk candi-candi Hindu Jawa.

Di depannya terdapat tiga candi perwara atau candi pendamping. Ketiga bangunan kecil ini diyakini berkaitan dengan pemujaan Trimurti yaitu dewa Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur.

Ketiga candi perwara ini diyakini berkaitan erat dengan pemujaan tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Penempatannya yang berjejer di depan candi induk menunjukkan hierarki posisi di mana candi induk tetap menjadi pusat pemujaan tertinggi, sementara ketiga bangunan ini berfungsi sebagai pendukung ritual.

Namun keistimewaan Candi Ijo tak berhenti pada nilai sejarah dan artistiknya. Ketika sore mulai turun, kompleks candi ini berubah menjadi panggung alam yang memukau. Cahaya matahari senja memantul lembut pada permukaan batu andesit, menciptakan gradasi warna keemasan yang memberi kesan dramatis pada setiap sudut bangunan.

Candi Ijo adalah bukti bahwa warisan budaya tak hanya hidup dalam buku sejarah atau ruang museum. Ia tetap berdiri, menyatu dengan alam, menawarkan pelajaran tentang spiritualitas, seni, dan kebijaksanaan leluhur kepada siapa pun yang datang.

Di tengah maraknya destinasi wisata modern, Candi Ijo mengingatkan bahwa kadang perjalanan terbaik adalah perjalanan menengok masa lalu. Di puncak bukit itu, di bawah langit Yogyakarta yang perlahan memerah, sejarah tidak sekadar dikenang ia terasa ­hidup. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Nasional
MTQ Nasional XXXI Dibuka, M...
Olahraga
Formula 1: Lewis Hamilton K...
Advertisement
Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.