Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alarm Industri Berbunyi! PMI Manufaktur RI Anjlok Versi S&P, Ternyata Faktor Ini Jadi Biang Tekanan

📅 Senin, 04 Mei 2026, 20:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Alarm Industri Berbunyi! PMI Manufaktur RI Anjlok Versi S&P, Ternyata Faktor Ini Jadi Biang Tekanan Doc: ANTARA/ Maulana Surya
Ket. Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik Sari Warna Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA – PMI manufaktur Indonesia pada April mencerminkan arah aktivitas industri yang menjadi indikator awal kondisi sektor riil.

Jika indeks berada di atas level 50, hal ini menandakan ekspansi produksi yang didorong peningkatan permintaan dan optimisme pelaku usaha.

Namun, jika terjadi perlambatan atau mendekati ambang batas, itu mengindikasikan tekanan pada pesanan baru, produksi, maupun tenaga kerja.

Secara keseluruhan, pergerakan PMI April menjadi sinyal penting bagi prospek pertumbuhan industri dalam jangka pendek, sekaligus mencerminkan sensitivitas sektor manufaktur terhadap dinamika permintaan global dan domestik.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai PMI manufaktur Indonesia bulan April yang terkontraksi lebih dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok global.

“Kita melihat divergensi yang sangat jelas antara negara maju dan ASEAN. Amerika Serikat (AS) dan Jepang justru mengalami akselerasi manufaktur karena fenomena safety stock building, sementara ASEAN, termasuk Indonesia, mulai tertekan oleh inflasi biaya dan gangguan rantai pasok,” ujarnya di Jakarta, Senin.

Adapun data terbaru S&P Global menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Indonesia memasuki fase kontraksi dengan PMI turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April. Penurunan tersebut menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir dan terjadi di tengah tekanan inflasi yang semakin kuat, baik dari sisi global maupun domestik.

Menurut Fakhrul, tekanan pada sektor manufaktur disebabkan lonjakan biaya input akibat konflik geopolitik, yang mendorong kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan.

Hal ini tercermin dari lonjakan inflasi biaya produksi ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yang kemudian diteruskan ke harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari satu dekade.

“Ini adalah textbook case dari cost-push inflation. Ketika biaya naik terlalu cepat, produsen tidak punya pilihan selain mengurangi output atau meneruskan harga ke konsumen. Kita melihat keduanya terjadi secara bersamaan di April,” jelas Fakhrul.

Di sisi lain, meski terdapat sedikit peningkatan pada pesanan baru, hal tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan permintaan yang sehat.

“Kenaikan order lebih bersifat front-loading, antisipasi kenaikan harga ke depan, bukan karena demand yang benar-benar kuat. Ini penting untuk dibaca secara hati-hati,” tambahnya.

Lebih lanjut, Fakhrul juga menyoroti bahwa pelemahan PMI ini terjadi bersamaan dengan inflasi Indonesia yang tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan (yoy) pada April 2026. Meski masih dalam kisaran target, dinamika di sektor manufaktur menunjukkan adanya potensi tekanan ke depan yang sudah mulai muncul pada harga input.

“Inflasi headline memang masih terlihat terkendali di 2,42 persen, tetapi tekanan di level produsen sudah mulai naik signifikan. Artinya, ada potensi lagging pass-through ke inflasi konsumen dalam beberapa bulan ke depan, terutama sebagai akibat dari pelemahan rupiah” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Timothy Ivan Triyono Mundur dari Bakom RI

45 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Ekonomi
BNI Perkuat Komitmen Lestar...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.