Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mitigasi Iklim di Indonesia Perlu Inovasi AI dan Tata Kelola Air Terintegrasi

24 Minggu, 03 Mei 2026, 15:38 WIB | Oleh:

“Kami mendukung pengujian program, penguatan kerja sama industri, hingga pengembangan model bisnis agar inovasi ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Pada hari kedua KIE Jakarta Summit, diskusi bertajuk Water Management in the Era of Climate Change menyoroti strategi adaptasi masyarakat di tingkat tapak.

Penelitian kolaboratif Universitas Gadjah Mada dan Australian National University mengembangkan sistem agroforestri terpadu di Sumbawa, Malaka, dan Maluku Tengah untuk meningkatkan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat terhadap perubahan iklim.

Peneliti UGM Prof. Ahmad Maryudi menjelaskan pendekatan tersebut dilakukan melalui co-creation dan co-learning bersama masyarakat setempat.

“Kami tidak membawa solusi dari luar, melainkan belajar dari praktik yang sudah dilakukan masyarakat, lalu mengembangkannya agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim,” katanya.

Forum ini juga membahas kondisi layanan air bersih pedesaan. Penelitian gabungan UGM, Universitas Indonesia, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan University of Technology Sydney menemukan lebih dari 25 juta penduduk Indonesia masih bergantung pada sistem penyediaan air pedesaan berbasis komunitas yang rentan terdampak banjir, badai, dan kekeringan.

Sebagai respons, tim peneliti mengembangkan dua perangkat praktis yakni Rural Water Supply Climate Resilience Monitoring Tool (RWS CRMT) dan Rural Water Supply Climate Resilience Assessment Tool (RWS CRAT) untuk memantau dan menilai ketahanan layanan air desa terhadap risiko iklim.

Peneliti UGM Dr. Daniel menekankan pentingnya dukungan pendanaan, pelatihan, dan penguatan kelembagaan bagi komunitas pengelola air.

“Kelompok masyarakat pengelola air pedesaan membutuhkan dukungan kelembagaan yang lebih responsif agar layanan air tetap tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Perencana Ahli Pertama Direktorat Penyelenggaraan SDA Berkelanjutan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Karina Fauziah, menegaskan bahwa kebijakan pengelolaan air harus disesuaikan dengan karakteristik ekosistem lokal.

Ia menilai pendekatan “business as usual” tidak lagi relevan di tengah percepatan perubahan iklim.

“Program pengelolaan air ke depan harus berbasis karakteristik wilayah. Dibutuhkan keterlibatan lintas sektor agar perencanaan lingkungan benar-benar terintegrasi,” kata Karina.

KIE Jakarta Summit menegaskan bahwa tantangan krisis iklim tidak bisa dihadapi secara parsial. Dibutuhkan integrasi antara teknologi, tata kelola, riset kolaboratif, dan partisipasi masyarakat agar Indonesia mampu membangun ketahanan iklim yang berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.