Mitigasi Iklim di Indonesia Perlu Inovasi AI dan Tata Kelola Air Terintegrasi
📅 Minggu, 03 Mei 2026, 15:38 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan tata kelola air terintegrasi dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata di berbagai wilayah Indonesia, terutama kawasan pesisir dan pedesaan. Hal ini mengemuka dalam Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit yang digelar pada 29 April 2026.
Forum yang mempertemukan peneliti, pemerintah, akademisi, hingga sektor swasta ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi konkret dalam mitigasi krisis iklim, mulai dari sistem peringatan dini banjir rob hingga penguatan akses air bersih di wilayah rentan.
Salah satu inovasi yang dipresentasikan adalah hasil penelitian kolaboratif antara Universitas Telkom Indonesia dan University of Wollongong Australia yang didanai KONEKSI, kemitraan Australia-Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi.
Penelitian tersebut mengembangkan aplikasi berbasis AI yang mampu memantau sistem peringatan banjir rob secara real-time dan dapat diakses publik melalui telepon genggam. Sistem ini telah diterapkan di Semarang, Demak, dan Pekalongan—tiga wilayah pesisir utara Jawa Tengah yang selama ini paling terdampak banjir rob akibat kombinasi pasang air laut dan penurunan muka tanah.
Peneliti Universitas Telkom, Miftadi Sudjai, menjelaskan bahwa sistem ini mengintegrasikan sensor lapangan dengan server pusat yang terhubung ke dashboard digital berbasis AI.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami mengintegrasikan warning monitoring system ke dalam dashboard yang bisa diakses publik melalui aplikasi di ponsel. Sistem ini memungkinkan masyarakat memperoleh informasi dini sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap banjir rob,” ujar Miftadi pada kesempatan tersebut.
Ia menambahkan, pengembangan teknologi tersebut dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk menghasilkan sistem AI dan Internet of Things (IoT) yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Menurutnya, teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi kerugian ekonomi akibat banjir rob sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain persoalan banjir rob, forum tersebut juga menyoroti tantangan krisis air bersih yang dihadapi masyarakat pesisir.
Penelitian kolaboratif Universitas Diponegoro dan Australian National University menemukan masih banyak warga di kawasan pesisir Jepara, Jawa Tengah, yang harus mengantre air hingga larut malam akibat terbatasnya akses terhadap sumber air bersih.
Peneliti Universitas Diponegoro, Prof. I Nyoman Widiasa, mengatakan timnya telah mengembangkan sistem penyediaan air bersih skala kecil berbasis pendekatan desentralisasi yang kini telah dibangun di lebih dari 16 titik.
“Indonesia sebenarnya memiliki ketersediaan air melimpah. Tantangannya adalah infrastruktur yang belum merata. Karena itu, kami membangun mesin-mesin skala kecil untuk desa dan kecamatan,” katanya.
Sistem tersebut, lanjut Nyoman, diharapkan tidak hanya menyediakan air bersih, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi biru melalui pemanfaatan air buangan untuk produksi garam dan budidaya perikanan.
Ia berharap inovasi tersebut dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!