Atletik Dunia Perketat Aturan, Coe Siap Tindak Atlet yang Ganti Negara

Minggu, 03 Mei 2026, 00:35 WIB

GABORONE, BOTSWANA — Presiden World Athletics (Atletik Dunia), Sebastian Coe, menegaskan akan tetap bersikap “keras” terhadap atlet yang ingin berganti kewarganegaraan, menyusul penolakan federasi terhadap upaya sejumlah atlet top dari Jamaika dan Kenya untuk pindah ke Turki.

Peraih emas Olimpiade 2024 nomor lempar cakram putra, Roje Stona, serta lima atlet Kenya termasuk mantan pemegang rekor dunia maraton putri Brigid Kosgei, termasuk di antara 11 atlet yang menjadi target tawaran menggiurkan dari Turki.

Ket. Foto: Presiden World Athletics (Atletik Dunia), Sebastian Coe. — Sumber: AFP

“Konsepnya sangat sederhana, harus ada pemahaman yang jelas bahwa negara tempat seorang atlet memulai karier adalah negara tempat ia mengakhirinya,” ujar Coe dalam wawancara jelang ajang World Athletics Relays di Botswana, Sabtu (2/5) waktu setempat.

Menurut Coe, kejelasan identitas nasional sangat penting untuk menjaga makna kompetisi global. “Kejuaraan dunia harus tetap berbasis pada identitas negara, agar publik dapat memahami dan merasakan nilai kompetisi tersebut,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa panel World Athletics meninjau setiap permohonan perpindahan kewarganegaraan secara individual. Dalam kondisi tertentu, seperti pernikahan atau tekanan politik, permohonan masih bisa diterima. Namun, perpindahan yang didorong semata oleh insentif finansial akan ditolak.

Langkah Turki yang mencoba merekrut atlet elite demi meningkatkan peluang medali di Olimpiade Los Angeles 2028 disebut Coe sebagai contoh yang tidak akan disetujui. “Jika hanya ingin pindah federasi tanpa alasan yang memenuhi kriteria, itu tidak bisa diterima. Kami akan tetap tegas,” katanya.

Coe juga mengingatkan bahwa banyak federasi bergantung pada pendanaan pemerintah. “Dukungan itu bisa hilang jika pemerintah merasa mereka membiayai pengembangan atlet untuk negara lain,” ujarnya.

Sementara itu, sprinter Botswana Letsile Tebogo, peraih emas Olimpiade 2024 nomor 200 meter, mengungkapkan pada Desember lalu bahwa ia menolak tawaran untuk berganti kewarganegaraan ke Qatar, Uni Emirat Arab, dan Tunisia.

Meski menghadapi tantangan ekonomi akibat melemahnya pasar berlian global, yang menyumbang sekitar 30 persen produk domestik bruto, Botswana tetap berkomitmen mendanai program atletik yang terus menunjukkan prestasi di panggung internasional.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.