Reformasi Era Jiang Zemin - Zhu Rongji Tandai Transisi Krusial di Tiongkok

Selasa, 18 Agu 2026, 01:25 WIB

Politik Tiongkok

JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji menghadapi sejumlah reformasi paling rumit di Tiongkok, menantang kelompok kepentingan mapan dan masalah yang telah berakar kuat, sembari mendorong negara tersebut menuju perekonomian yang lebih berorientasi pasar, terbuka, dan terlembagakan, ujar akademisi Gu Qingyang.

Ket. Foto: Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji — Sumber: GERARD CERLES/AFP

Untuk menilai mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji, salah satu perspektif penting adalah mengawalinya dari karakteristik era saat ia menjabat, sekaligus mempertimbangkan interaksinya dengan Deng Xiaoping dan Jiang Zemin.

Reformasi pada era Jiang-Zhu, seperti diberitakan Think China, menandai transisi krusial di Tiongkok— dari prinsip “menyeberangi sungai dengan meraba batu” menuju reformasi yang lebih sistematis, berorientasi pasar, terlembagakan, dan penuh tantangan.

Salah satu ciri utama dari periode ini adalah penetapan secara resmi tujuan pembentukan sistem ekonomi pasar sosialis pada Kongres Nasional ke-14 Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1992.

Inovasi kelembagaan ini berupaya menggabungkan sistem sosialis Tiongkok dengan ekonomi pasar, sehingga memungkinkan pemerintah dan pasar untuk saling melengkapi.

Hal ini menjadi eksperimen penting dalam reformasi dan pembangunan bagi sebuah negara sosialis.

Kerangka kerja baru tersebut memberikan pengaruh yang mendalam dan berjangka panjang bagi pembangunan Tiongkok selanjutnya, sekaligus menyediakan fondasi kelembagaan penting bagi pertumbuhan ekonominya yang pesat.

Langkah ini juga memberikan pelajaran berharga bagi reformasi di negara-negara lain.

Deng Xiaoping, Jiang Zemin, dan Zhu Rongji sama-sama memainkan peranan penting dalam membangun kerangka kerja krusial ini.

Ciri utama lainnya adalah proses reformasi Tiongkok yang mulai memasuki tahap baru inovasi dan pembangunan kelembagaan.

Reformasi berorientasi pasar diperkenalkan di berbagai bidang, meliputi keuangan publik dan perpajakan, keuangan, perdagangan luar negeri, investasi, penetapan harga, badan usaha milik negara (BUMN), hingga jaminan sosial.

Reformasi tidak lagi terbatas pada penyesuaian di sektor-sektor tertentu secara terpisah, melainkan telah menjadi semakin komprehensif dan sistematis.

Gaya pribadi Zhu Rongji dicirikan oleh ketegasan dan keberanian untuk menghadapi masalah-masalah yang telah berakar kuat.

Pada saat yang sama, ia menekankan pendekatan pragmatis: menguji coba reformasi sebelum memperluas penerapannya, menangani masalah yang lebih mudah sebelum yang lebih sulit, dan memanfaatkan pembangunan ekonomi untuk mendorong stabilitas, seraya berupaya menghindari gejolak sosial yang parah.

Ciri menonjol lainnya dari periode ini adalah upaya aktif Tiongkok untuk mempelajari dan memetik pelajaran dari pengalaman pembangunan internasional, seraya menyesuaikannya dengan kondisi dalam negerinya sendiri.

Keterbukaan untuk belajar ini memainkan peranan penting dalam transformasi ekonomi Tiongkok pada masa itu.

Menggelorakan Reformasi Berorientasi Pasar

Salah satu pendekatan utama Zhu Rongji adalah memanfaatkan reformasi berorientasi pasar untuk mengobarkan vitalitas ekonomi, serta menggunakan internasionalisasi untuk menggerakkan reformasi domestik.

Pengajuan diri Tiongkok untuk bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memberikan peluang yang sangat penting.

Tiongkok memanfaatkan proses aksesi tersebut untuk menyelaraskan diri secara lebih erat dengan aturan-aturan internasional, membuka pasarnya, menciptakan persaingan yang lebih luas, serta mengoptimalkan iklim usahanya.

Pendekatan ini—”memandang dunia seraya tetap berakar di Tiongkok”— merupakan bagian penting dari metodologi di balik upaya Tiongkok mengejar ketertinggalannya.

Pendekatan tersebut secara signifikan menekan biaya eksperimentasi kelembagaan, mempercepat penetapan aturan-aturan dasar bagi ekonomi modern, serta mempersiapkan Tiongkok secara kelembagaan untuk integrasi yang lebih mendalam ke dalam ekonomi global hingga akhirnya resmi menjadi anggota WTO.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Andes Tanjung

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.