Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tekan Biaya Logistik, Kemenhub melalui Ditjen Intram Genjot Multimoda dan Digitalisasi

📅 Sabtu, 02 Mei 2026, 10:40 WIB | Oleh:
Tekan Biaya Logistik, Kemenhub melalui Ditjen Intram Genjot Multimoda dan Digitalisasi Doc: Dok. Istimewa

JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) mendorong percepatan integrasi transportasi multimoda dan digitalisasi logistik untuk menekan biaya logistik nasional yang masih berada di angka 14,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, Risal Wasal, dalam kegiatan Launching Supply Chain Indonesia Exhibition & Conference 2026 di Westin Jakarta, Kamis (30/4).

“Biaya logistik kita masih relatif tinggi, dan ini menjadi tantangan utama bagi daya saing nasional. Karena itu, integrasi transportasi multimoda harus menjadi strategi utama dalam sistem distribusi barang,” ujar Risal dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Ia mengungkapkan, sektor transportasi dan pergudangan saat ini menunjukkan peran strategis dengan kontribusi sekitar 6,16% terhadap PDB serta pertumbuhan mencapai 8,98% pada triwulan IV 2025—tertinggi dibanding sektor lainnya. Namun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari rendahnya integrasi nasional, ketergantungan pada moda darat, hingga ketimpangan distribusi barang dan kemacetan di kawasan perkotaan. 

Menurut Risal, salah satu solusi utama adalah penguatan angkutan multimoda sebagai tulang punggung supply chain nasional. “Angkutan multimoda mampu mengintegrasikan berbagai moda transportasi dalam satu sistem layanan. Ini bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam pengiriman barang,” jelasnya.

Ia menegaskan, penerapan multimoda terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi logistik. “Dengan pendekatan multimoda, kita bisa menurunkan biaya logistik hingga sekitar 25% dan meningkatkan efisiensi waktu pengiriman hingga 30%. Ini angka yang sangat signifikan untuk mendorong daya saing,” tegas Risal. 

Lebih lanjut, pemerintah juga mendorong transformasi digital melalui implementasi National Logistic Ecosystem (NLE) yang mampu meningkatkan efisiensi proses logistik hingga 24,6–49,5%. Selain itu, penguatan konektivitas dilakukan melalui Tol Laut dengan 41 trayek, pengembangan angkutan kargo udara perintis, serta integrasi jaringan logistik berbasis kereta api dan pelabuhan. 

Dalam kesempatan tersebut, Risal juga menyoroti inovasi layanan logistik berbasis kebutuhan atau on call logistics yang dikembangkan untuk menjawab gap layanan distribusi, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan.

“Kita mulai mengarah pada sistem logistik yang lebih fleksibel melalui konsep on call, di mana layanan transportasi disediakan sesuai kebutuhan lokasi dan waktu. Ini penting untuk menjawab tantangan distribusi di wilayah seperti Maluku, Papua, dan daerah 3TP,” ujarnya. 

Risal menegaskan, transformasi logistik nasional membutuhkan langkah besar yang terintegrasi. “Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan perbaikan incremental. Kita membutuhkan lompatan strategis melalui integrasi multimoda, digitalisasi menyeluruh, dan tata kelola data nasional untuk menurunkan biaya logistik menuju kisaran yang lebih kompetitif,” tegasnya. 

Ia menambahkan, keberhasilan penguatan supply chain nasional sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan asosiasi.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kolaborasi dan inovasi agar sistem logistik nasional menjadi lebih efisien, andal, dan berdaya saing global,” tutup Risal. 

Kegiatan Supply Chain Indonesia Exhibition & Conference 2026 diharapkan menjadi katalis dalam memperkuat integrasi transportasi multimoda sekaligus mempercepat transformasi logistik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi dan dinamika perdagangan global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.