Sumedang Menjadi Titik Awal Milangkala Tatar Sunda Berbasis Fakta
📅 Sabtu, 02 Mei 2026, 23:35 WIB | Oleh: Tim PenulisSumedang - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menjelaskan penetapan Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda berlandaskan pada jejak sejarah yang masih dapat ditelusuri secara fisik.
Dedi dalam kunjungannya di Sumedang, Sabtu, mengatakan bahwa penetapan Sumedang tidak bersifat administratif semata, melainkan didasarkan pada fakta keberadaan Mahkota Binokasih yang ada di Sumedang.
“Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih menjadi salah satu penanda penting dalam membaca kembali perjalanan sejarah Kerajaan Sunda yang masih meninggalkan jejak kebendaan.
Menurut KDM, dalam lintasan sejarahnya Kerajaan Sunda memiliki rangkaian perjalanan dari Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang yang menjadi bagian dari kesinambungan peradaban di Tatar Sunda.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pakuan, Pajajaran dalam sejarahnya mengalami serangan, kemudian terjadi pembakaran terhadap kerajaan. Lalu ada proses penitipan pusaka ke Sumedang Larang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa posisi Sumedang Larang dalam perjalanan sejarah tersebut membuat wilayah itu memiliki keterkaitan kuat dengan jejak Kerajaan Sunda yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Mahkota Binokasih sendiri selama ini dipandang sebagai artefak budaya yang merepresentasikan perjalanan sejarah tersebut, sekaligus menjadi simbol utama dalam pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda.
Sebaiknya Anda baca juga:
KDM menyebut bahwa hasil kajian tersebut juga berlandaskan akademik dari perguruan tinggi turut memperkuat nilai sejarah dari Mahkota Binokasih sebagai bagian dari kebendaan yang memiliki keterkaitan dengan peradaban Sunda.
Selain aspek sejarah, Milangkala Tatar Sunda juga dirancang sebagai ruang pelestarian budaya Sunda yang lebih luas, mencakup musik, busana, hingga nilai-nilai tradisi yang masih hidup di masyarakat.
“Dari tata nilai musik misalnya itu melambangkan kelembutan. Dari tata nilai pakaian, kita ini sudah lama memiliki passion yang sangat tinggi. Pakaian bernuansa kerajaan itu kan sebenarnya fashionable,” ujarnya.
KDM juga menegaskan penetapan Milangkala Tatar Sunda sebagai agenda rutin diharapkan menjadi upaya menghubungkan kembali mata rantai sejarah tersebut sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan penetapan Sumedang sebagai titik awal Milangkala Tatar Sunda menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat daerah.
“Ini sebuah perhelatan yang luar biasa, sarat akan makna bagaimana sebuah Milangkala menjadi cerita sejarah dan kompas bagi masa depan Jawa Barat, dan Sumedang di dalamnya,” ujarnya
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!