Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Bakal Letoi, IHSG Tertekan

📅 Senin, 27 Apr 2026, 10:28 WIB | Oleh:

"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," ujar Brigita.

Dari sisi global, belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi.

Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai energi global yang dapat menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.

Selain itu, Brigita menerangkan ekspektasi terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) kembali bergeser lebih hawkish seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, kondisi global mendorong investor mengadopsi sikap risk-off, dengan potensi peralihan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi sebagai instrumen lindung nilai.

Sementara dari sisi domestik, dua katalis utama yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah di kisaran Rp17.315 per dolar AS.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Dex Series sejak 18 April dinilai mencerminkan respons terhadap harga energi global yang masih tinggi sekaligus menjaga kredibilitas fiskal.

Namun demikian, pasar mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi jangka pendek, terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 April 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

"Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi," kata Brigita.

Ia menambahkan kombinasi penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat menunjukkan sikap otoritas yang defensif dan pre-emptive dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Meski demikian, pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal.

"Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PM Inggris Keir Starmer Dip...
Ekonomi
Dampak Hilirisasi Mineral b...
Susunan Pemain Spanyol vs Arab Saudi Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Tampil Starter

Susunan Pemain Spanyol vs Arab Saudi Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Tampil Starter

21 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.