Politik Israel: Bennett dan Lapid Duet Lagi demi Gusur Netanyahu di Pemilu 2026
📅 Senin, 27 Apr 2026, 14:05 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Dua tokoh politik terkemuka Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi menyatakan akan bersatu dalam pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk menggulingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang telah lama mendominasi panggung politik Israel.
Bennett dan Lapid sebelumnya pernah menjabat sebagai perdana menteri melalui kesepakatan rotasi dalam pemerintahan koalisi yang mereka bentuk pada 2021. Saat itu, koalisi tersebut berhasil mengakhiri 12 tahun pemerintahan Netanyahu sebelum akhirnya pecah dan Netanyahu kembali berkuasa melalui pemilu berikutnya.
Kali ini, keduanya berencana menggabungkan partai mereka menjadi satu faksi politik yang dipimpin oleh Bennett. Aliansi itu disebut sebagai kemitraan antara kubu tengah dan kanan yang diharapkan mampu menyatukan kekuatan oposisi yang selama ini terpecah.
Bennett menegaskan, jika dirinya terpilih sebagai perdana menteri, langkah pertama yang akan dilakukan adalah membentuk komisi penyelidikan negara. Komisi tersebut bertugas menyelidiki serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan yang kemudian memicu perang besar di kawasan tersebut.
"Jika terpilih, pada hari pertama pemerintahan baru kami akan membentuk komisi penyelidikan negara untuk mengusut kegagalan yang terjadi pada serangan 7 Oktober," ujar Bennett.
Sebaiknya Anda baca juga:
Serangan tersebut menjadi salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah Israel modern dan hingga kini masih membayangi pemerintahan Netanyahu. Di dalam negeri, tuntutan untuk penyelidikan publik atas kegagalan intelijen dan keamanan terus menguat.
Sementara itu, Lapid menyerukan agar kubu politik tengah Israel bersatu penuh di belakang Bennett. Menurutnya, situasi politik dan keamanan saat ini membutuhkan kepemimpinan baru yang mampu memulihkan stabilitas nasional.
"Negara ini membutuhkan persatuan seperti udara untuk bernapas," kata Lapid.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lapid sendiri menjabat sebagai pemimpin oposisi sejak Netanyahu kembali menjadi perdana menteri. Sementara Bennett sempat meninggalkan dunia politik setelah koalisi mereka runtuh, sebelum kini kembali untuk menghadapi pertarungan politik besar.
Meski memiliki perbedaan ideologis, keduanya dikenal memiliki hubungan kerja yang solid. Bennett merupakan tokoh Yahudi Ortodoks dengan pandangan keras terhadap Palestina, sedangkan Lapid lebih moderat dan dikenal sebagai politisi sekuler.
"Kami telah melalui banyak hal bersama. Kami telah membuat keputusan sulit bersama. Kami tahu kami dapat saling mengandalkan," lanjut Lapid.
Aliansi Bennett-Lapid kini dipandang sebagai upaya paling serius untuk menantang dominasi Netanyahu. Oposisi berharap penyatuan kekuatan ini dapat menjadi momentum baru dalam perebutan kekuasaan politik di Israel pada pemilu mendatang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!