Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertanian harus Dikemas Jadi Industri Teknologi yang Presisi, Efisien, dan Menguntungkan

📅 Senin, 20 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Ketiga, petani harus diberi bantuan produktif misalnya lahan gratis untuk bertanam, bibit, pupuk serta pendampingan sehingga menghasilkan panen yang baik. “Hasil panen ini semua akan diserahkan kepada petani agar mereka lebih sejahtera,” katanya.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi (AKABI) Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dyah Susilokarti mengatakan saat ini pihaknya memiliki lahan 37.500 hektare yang siap ditanam kedelai tapi memang ada keterbatasan bibit.

Realitas Ekonomi

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan, membangun kedaulatan pangan nasional tidak bisa hanya mengandalkan heroisme retoris atau ajakan sentimental agar generasi muda kembali ke sawah.

Di balik seruan “cinta pertanian” yang digaungkan oleh tokoh-tokoh seperti di HKTI, terdapat realitas ekonomi yang keras dan kesenjangan struktural yang gagal dijembatani oleh kebijakan konvensional.

“Mengandalkan semangat patriotisme anak muda tanpa mengubah lanskap agribisnis secara fundamental adalah bentuk pengabaian terhadap logika pasar yang rasional,”tegas Muliarta.

Ancaman lost generation dalam sektor pertanian bukan disebabkan oleh pudarnya rasa nasionalisme, melainkan akibat dari kegagalan sektor ini dalam menawarkan standar hidup yang layak. Generasi muda saat ini adalah kelompok yang sangat literat terhadap data dan peluang.

Selama pertanian masih dipandang sebagai sektor berisiko tinggi dengan perlindungan harga yang rendah, maka "romantisme lumpur" tidak akan pernah bisa mengalahkan daya tarik sektor industri atau jasa. Transformasi dari subsistence farming menuju smart farming berbasis teknologi digital bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak. Pertanian harus dikemas sebagai industri teknologi yang presisi, efisien, dan yang paling penting, menguntungkan.

Ambisi swasembada kedelai sebesar 2,62 juta ton pada 2029 perlu ditinjau ulang dengan kacamata ekosistem yang lebih luas. Memaksakan penanaman komoditas tertentu hanya demi mengejar angka statistik sering kali melupakan prinsip keunggulan komparatif.

“Petani tidak enggan menanam kedelai karena mereka “malas”, melainkan karena mereka logis. Tanpa adanya intervensi harga yang mampu melindungi mereka dari gempuran kedelai impor yang jauh lebih murah, menanam kedelai sama saja dengan merencanakan kerugian. Maka, strategi offtaker yang ditawarkan harus lebih dari sekadar “pembeli siaga,”paparnya.

Pemerintah tegas Muliarta harus hadir dengan sistem yang menjamin harga di tingkat petani tetap berada di atas biaya produksi, sekaligus mengintegrasikannya dengan Sistem Resi Gudang untuk menjaga stabilitas pasokan.

Sementara itu, Anggota DPD DIY Pemuda Tani Indonesia, Pranasik Siahaan, mengatakan, pendekatan terhadap anak muda tidak bisa hanya berbasis ajakan moral, tetapi harus disertai dengan ekosistem yang membuat sektor pertanian relevan dan menjanjikan secara ekonomi. Menurutnya, tanpa perubahan pendekatan tersebut, sektor pertanian akan sulit menarik minat generasi baru.

Pranasik menambahkan bahwa kepastian pasar menjadi salah satu persoalan utama yang selama ini dihadapi petani, termasuk dalam komoditas kedelai. Ia menyebut keberadaan offtaker atau pembeli hasil panen secara pasti dapat memberikan rasa aman bagi petani untuk menanam dan meningkatkan produktivitas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...

Pasar pangan murah menjangkau warga Jakarta

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

2 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

2 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.