Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertanian harus Dikemas Jadi Industri Teknologi yang Presisi, Efisien, dan Menguntungkan

📅 Senin, 20 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pertanian harus Dikemas Jadi Industri Teknologi yang Presisi, Efisien, dan Menguntungkan Doc: ANTARA/Umarul Faruq
Ket. Stok Cadangan Beras - Petugas mengecek karung beras di gudang Bulog Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (19/4). Kementerian Pertanian menyebut stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 4,5 juta ton untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

JAKARTA - Bangsa yang kuat adalah bangsa yang berdaulat dengan pangan. Bangsa yang berdaulat adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan tidak bergantung lagi pada asing untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Ketua Harian I Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Mayjen TNI Purn Bachtiar Utomo usai panen perdana kedelai di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan masalah pangan bukan hanya masalah negara tapi semua harus ikut terlibat dalam memastikan ketersediaan pangan nasional.

“Jangan sampai terjadi lost generation farm di Indonesia. Mari semua dekatkan anak-anak muda kita dengan pertanian. Anak muda Indonesia harus dekat dan cinta dengan pertanian. Mereka akan bekerja sama dalam membangun ketahanan pangan bangsa,” kata Bachtiar.

Sebagai langkah nyata dari upaya mencapai kedaulatan pangan adalah substitusi komoditas impor dengan menanam sendiri di dalam negeri misalnya kedelai yang selama ini dipenuhi melalui impor.

HKTI jelas Bachtiar menyampaikan tiga rekomendasi agar petani tidak malas menanam kedelai demi membantu pemerintah mencapai target swasembada kedelai sebesar 2,62 juta ton pada 2029.

“Ada tiga rekomendasi yang bisa kami berikan agar petani bersemangat bertanam kedelai karena selama ini dianggap tidak menguntungkan,” kata Bachtiar.

Hal pertama adalah Pemerintah harus mengintervensi dengan menyiapkan off taker atau pihak yang membeli hasil panen petani kedelai sehingga ada kepastian saat petani menjual hasil panen.

“Jika ada kepastian maka petani akan bersemangat menanam kedelai karena menguntungkan petani,” katanya.

Kedua, pemerintah dapat menggandeng pihak swasta agar melakukan diversifikasi kedelai. Selama ini kedelai lokal hanya digunakan sebagai bahan pembuat tahu dan tempe.

Ia mencontohkan produk kedelai ini harus diolah menjadi susu kedelai sehingga memiliki nilai purna jual yang tinggi.

“Selama ini petani malas bertanam karena tidak menjanjikan. Beda dengan tanaman lain seperti padi atau lainnya,” katanya.

Saat ini harga kedelai dijual dengan harga berkisar 8.000-10.000 ribu rupiah per kilogram (kg). Sementara jika dijual dalam bentuk benih, harga jualnya menjadi 15 ribu, bahkan 20 ribu rupiah per kg, tergantung kualitas.

Ia optimistis program swasembada kedelai yang ditargetkan Presiden Prabowo pada 2029 dapat terealisasi dengan syarat semua harus bergerak bersama untuk menyukseskan program ini.

“Jika ada kepastian bagi petani tentu akan membuat mereka sejahtera,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.