Kadin Parimo Targetkan Transformasi Ekonomi Sulteng Lewat Industri Durian 5 Tahun ke Depan
📅 Minggu, 12 Apr 2026, 17:55 WIB | Oleh: Yebdi TrismarKamar Dagang dan Industri Parigi Moutong (Kadin Parimo) menargetkan transformasi besar ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) melalui pengembangan industri durian dari hulu hingga hilir lima tahun ke depan.
“Durian telah menjadi komoditas ekspor, sekaligus sebagai sumber ekonomi baru bagi Sulteng. Kadin Parigi Moutong sebagai pihak yang memprakarsai kegiatan ekspor berkomitmen memajukan investasi durian,” kata Ketua Kadin Parigi Moutong Faradiba Zaenong di Parigi, Minggu.
Target tersebut meliputi 10 juta pohon durian produktif, pembangunan 1.000 unit packing house atau rumah kemas, dan penyerapan 250.000 tenaga kerja yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.
Target ini dibangun di atas fondasi nyata yang sudah mulai terbentuk di Sulawesi Tengah dan telah memiliki kurang lebih 400 ribu pohon durian montong produktif di atas lahan sekitar 4.000 hektare.
“Ini adalah kekuatan awal yang harus ditingkatkan secara signifikan,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kata dia di sektor hilir perkembangan juga mulai terlihat, saat ini tercatat telah berdiri sekitar 42 unit rumah kemas yang tersebar di Kota Palu, Parigi Moutong, dan Sigi.
“Artinya kita tidak mulai dari nol. Infrastruktur hilir sudah ada, tinggal kita percepat menuju skala 1.000 unit,” ucapnya.
Ia mengemukakan bahwa pengembangan ke depan difokuskan pada daerah-daerah dengan basis produksi kuat dalam catatan Kadin, Kabupaten Poso menjadi salah satu daerah prioritas pengembangan pembangunan rumah kemas, karena kabupaten itu memiliki jumlah durian produktif terbanyak di Sulawesi Tengah
Ia menegaskan bahwa pendekatan berbasis potensi wilayah penting supaya pembangunan berjalan efektif dan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi daerah.
“Daerah yang kuat di sektor produksi harus diperkuat di hilir. Di situlah nilai tambah akan tercipta,” tuturnya.
Program penanaman 10 juta pohon durian akan dijalankan lintas kabupaten dengan melibatkan petani lokal, menggunakan standar budidaya berbasis kualitas ekspor.
Sementara itu, pembangunan 1.000 rumah kemas menjadi tulang punggung sistem logistik modern untuk menjaga kualitas, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan kontinuitas pasokan dalam skala besar.
“Kalau tidak ada hilirisasi, kita hanya menjual bahan mentah. Kehadiran rumah kemas akan masuk dalam rantai perdagangan global,” tambahnya.
Lebih lanjut, target penyerapan 250.000 tenaga kerja menunjukkan bahwa program itu merupakan gerakan ekonomi rakyat berskala besar menggerakkan berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga ekspor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!