Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tragedi Longsor TPST Bantargebang Telan Korban Jiwa, Malapetaka Sampah Menanti

📅 Sabtu, 11 Apr 2026, 10:25 WIB | Oleh: Tim Penulis

Karena 6 orang korban sudah ditemukan, 2 perempuan dan 4 lelaki sopir truk sampah.Sedang 2 orang yang belum diketemukan itu juga sopir truk sampah, termasuk sopir dari Kembangan Jakbar itu.

Luas TPST Bantargebang sekitar 120 hektar, dioperasikan sejak 1989. TPST milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berada di wilayah administrasi Kota Bekasi. Lahan TPST meliputi wilayah Kelurahan Sumurbatu (paling luas), Ciketingudik dan Cikiwul Kecamatan Bantargebang. Sampah Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton per hari.

Mengapa gunung sampah di Bantargebang berulangkali longsor? Mungkin karena musim hujan. Sebelum terjadi longsor semalam turun hujan cukup lama. Mungkin, tumpukan sampah di zona IV itu sudah tinggi dan labil akibat penataan kurang baik. Mungkin juga, ada faktor lain semacam “penyakit kronis” sistemik yang perlu didalami.

Gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang mencapai ketinggian 40-50 meter. Tentu, rawan longsor, apalagi dikelola secara open dumping. Jangan selalu menyalahkan hujan! Lalu, bagaimana dengan beberapa teknologi pengolahan sampah yang ada? Berapa besar kemampuanteknologi-teknologi tersebut mengolah dan mereduksi sampah di TPST?

Betapa sulitnya mengurus gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang? Wilayah Jakarta yang penting bersih dengan kemampuan memindahkan kotorannya ke Bekasi. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menaklukannya? Mungkin gunung-gunung sampah di Bantargebang paling menakutkan di dunia? Potensi Malapetaka Sampah sangat besar bak magma gunung berapi.

Bencana Ekologis

Mengapa TPST/TPA sampah longsor? Sebab dikelola secara open dumping. Sampah hanya ditumpuk dan ditumpuk saja menjadi gunung-gunung sampah. TPST/TPA menjadi andalan utama. Ketergantungan itu akan menimbulkan persoalan baru lebih kompleks dan rumit. Merupakan kegagalan kronis sistemik pengelolaan sampah?

TPST Bantargebang belakangan memiliki belasan permasalahan. Salah satu yang sangat riskan adalah bertambahnya gunung-gunung sampah. Gunung-gunung sampah itu berisi berbagai jenis sampah dan ketika musim hujan rawan longsor. Sampah tersebut sulit diolah.

Kedua, persoalan air lindi (leachate) semakin massif sementara IPAS TPST hanya satu yang berfungsi atau tidak beroperasi sama sekali. Pasti akan menimbulkan pencemaran air tanah dan permukaan semakin massif. Tentu mengancam kesehatan warga sekitar. Sepanjang tahun 2025 situasi buruk ini berlangsung tanpa solusi komprehensif dan riil.

Paparan pencemaran lingkungan pada air tanah. (1) Pencemaran air tanah dapat terpajan ke manusia melalui konsumsi air tanah baik diminum maupun dimasak, yang masih banyak dijumpai berdasar data Puskesmas. (2) Pencemaran air permukaan, dapat terpajan ke manusia melalui infiltrasi air sungai ke tanah dan melalui penyerapan oleh tanaman pertanian maupun tambak. (3) Pajanan paling krusial dari data air permukaan adalah Logam Berat Krom Heksavalen (Cr6+) yang dapat dikategorikan “invisible pollution” tidak memiliki warna, tidak berbau, tidak berasa, tetapi beracun berpotensi kanker.

Laporan Tim Monev TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu (Pusat Penelitian Sumber Daya dan Lingkungan UI & Dinas LH Kota Bekasi, 2025) menyebutkan, kondisi kualitas dan dampak lingkungan hidup kualitas air permukaan. Hasil pengukuran kualitas air permukaan untuk 52 parameter pada 9 lokasi di dua periode menunjukkan, bahwa sebagian besar lokasi berada dalam kondisi Cemar Berat menurut Perhitungan Indeks Pencemaran sesuai KepmenLH No 115 tahun2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.

Parameter-parameter seperti TDS, TSS, Sampah, Amonia, DO, COD, BOD, Nitrit, Klorida, Zn terlarut, Deterjen Total, H2S, Minyak Lemak, Nitrogen Total, Total Fosfat, Total Coliform, Fecal Coliform dan Krom Heksavalen (Cr6+) secara konsisten melampaui baku mutu. Hasil pengukuran kualitas air permukaan untuk 52 parameter pada 9 lokasi di dua periode menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi berada dalam kondisi Cemar Berat menurut Perhitungan Indeks Pencemaran sesuai KepmenLH No 115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.

Kondisi buruk ini memperberat pencemaran Kali Asem, yang airnya mengalir ke Pedurenan, Perumahan Regency, Dukuh Zamrut, Perumahan Niagara, Mutiara Gading, crossing tol Jatimulya, kali Bekasi, Kali CBL hingga pesisir Muaragembong dan laut Jawa. Pencemaran air ini sudah berlangsung belasan tahun tanpa solusi memadai. Merupakan satu faktor penyebar berbagai penyakit terhadap manusia dan melenyapkan biota air.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.