Kurangi Energi Fosil, Investasi Energi Terbarukan Harus Diberi Insentif
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Penutupan belasan PLTD dapat menghemat konsumsi solar hingga 200 ribu barel per hari.
» RUPTL menargetkan tambahan 68,5 giga watt (GW) pada tahun 2034 yang sebagian besar berasal dari energi terbarukan.
JAKARTA - Pemerintah diminta tidak terlalu banyak menyampaikan wacana transisi energi terutama ketika ada tantangan geopolitik seperti perang di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak. Transisi energi sudah terlalu lama digaungkan namun realisasinya sangat lamban.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menegaskan kunci utama untuk mengurangi kebergantungan pada energi fosil ialah memberikan insentif bagi investasi energi terbarukan di sektor kelistrikan.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 ditargetkan peningkatan dominasi energi terbarukan dan IPP (independent power producers), sehingga insentif sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
RUPTL terang dia menargetkan tambahan 68,5 giga watt (GW) pada tahun 2034 yang sebagian besar berasal dari energi terbarukan plus penyimpanan dengan kontribusi sekitar 76 persen.
Hal itu mendorong bauran listrik energi terbarukan pada tahun 2034 menjadi 35 persen. Ini berarti proyek renewable energi berskala besar harus benar benar terjadi. “Maka dari itu kuncinya insentif untuk listrik energi terbarukan,” tegas Esther.
Dia menyebut hingga kini kapasitas listrik di RI masih didominasi oleh energi fosil, sementara dalam RUPTL 2025-2034 menargetkan peralihan ke energi terbarukan sebagai pilar utama. Untuk mencapai hal tersebut perlunya insentif agar proyek energi terbarukan benar benar terwujud.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden Prabowo dalam pidatonya saat meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik VKTR di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4) menargetkan Indonesia mampu menghentikan seluruh aktivitas impor bahan bakar minyak (BBM) dalam dua hingga tiga tahun ke depan guna memperkuat kemandirian energi nasional.
“Mungkin kita dua, tiga tahun lagi tidak perlu import BBM sama sekali,” kata Presiden.
Target tersebut jelas Kepala Negara akan dicapai melalui program elektrifikasi 100 gigawatt yang diharapkan tuntas dalam dua tahun. Program itu mencakup penutupan 13 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PLN yang selama ini mengonsumsi solar dalam jumlah besar.
Penutupan PLTD
Menurut Presiden, penutupan belasan PLTD tersebut secara langsung dapat menghemat konsumsi solar hingga 200 ribu barel per hari. Saat ini, Indonesia masih melakukan impor BBM sebanyak satu juta barel setiap hari, sehingga pengurangan penggunaan diesel akan memangkas ketergantungan impor sebesar 20 persen.
Selain elektrifikasi pembangkit, pemerintah juga mendorong penggunaan kendaraan listrik serta pemanfaatan sumber energi terbarukan lain seperti pengolahan kelapa sawit dan minyak jelantah menjadi avtur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!