Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Di Tengah Ketidakpastian, Pelaku Industri Logistik Pasang Target Ambisius

📅 Kamis, 09 Apr 2026, 21:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Di Tengah Ketidakpastian, Pelaku Industri Logistik Pasang Target Ambisius Doc: ANTARA/ Aprillio Akbar.
Ket. Sejumlah truk melaju di Jalan Tol Trans Jawa Ruas Tanjungmas-Srondol, Semarang, Jawa Tengah.

JAKARTA – Industri logistik nasional mulai memasang target ambisius meski dibayangi ketidakpastian global yang masih tinggi, mencerminkan upaya untuk tetap ekspansif di tengah risiko.

Tekanan dari gejolak geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan perdagangan dunia menjadi tantangan nyata bagi efisiensi dan biaya operasional.

Secara analitis, langkah ini menunjukkan adanya dorongan untuk meningkatkan daya saing melalui digitalisasi, integrasi rantai pasok, dan penguatan infrastruktur.

Namun, keberhasilan mencapai target tersebut sangat bergantung pada kemampuan pelaku industri dalam mengelola risiko eksternal sekaligus menjaga efisiensi di tengah volatilitas pasar yang belum mereda.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) membidik pertumbuhan industri logistik nasional di kisaran 10-15 persen pada 2026, meski di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Ketua Umum DPP ALFI Akbar Djohan menilai target tersebut didorong oleh berbagai program stimulus pemerintah yang menopang sektor riil. Artinya, selama aktivitas ekonomi riil tetap tumbuh, industri logistik akan ikut terdongkrak.

“Pertumbuhan (logistik) 2025 cukup baik, bahkan di atas pertumbuhan ekonomi. Harapan kami 2026 bisa melampaui lagi, paling tidak mendekati 10 persen, bahkan bisa 15 persen,” ujar Akbar dalam konferensi pers kick off ALFI Convex 2026 di Jakarta, Kamis (9/4).

Meski demikian, ALFI mengingatkan prospek 2026 tetap dibayangi tantangan global, terutama akibat konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.

Akbar menjelaskan disrupsi rantai pasok global telah mendorong kenaikan berbagai komponen biaya logistik, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan kapal, hingga premi asuransi.

Selain itu, perubahan rute pengiriman (reroute) akibat konflik juga turut menambah beban biaya.

Maka dari itu, asosiasi mendorong pemerintah untuk segera melakukan harmonisasi regulasi guna menekan biaya logistik yang masih tinggi.

Akbar menyoroti sejumlah kebijakan, termasuk regulasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 dari BPS yang dinilai bisa merugikan pelaku usaha logistik nasional.

Menurut dia, regulasi seharusnya memberikan kepastian hukum dan kemudahan berusaha, bukan justru menambah beban ekonomi.

“Kami berharap pemerintah bisa mengharmonisasi regulasi, baik yang akan dibuat maupun yang sudah ada. Tujuannya agar tidak menimbulkan biaya ekonomi tinggi,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Thailand Takluk, Filipina R...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.